Komunitas Sosial Teaterikal Magelang menggelar pertunjukan Wayang Getuck “Shinta Obong” di halaman SMK YP 17 Magelang sabtu 20 Desember pukul 20.00 WIB. Pertunjukan yang didukung oleh Environmental Service Program ini melibatkan berbagai komunitas teater di Magelang yang bergabung dalam bendera komunitas Sosial Teaterikal. Sinta Obong, cerita yang diangkat dari cerita wayang Ramayana ini sudah dipelintir sedemikian rupa oleh sang sutradara, Gepeng Nugroho.
Bagian 1
Pertunjukan dibuka dengan devile seluruh aktor dan penari memasuki panggung dengan diiringi tabuhan dari Rupadatu Percution. Lalu adegan dimulai. Seorang Dalang, diperankan Gepeng Nugroho, di panggung bagian tengah, memainkan wayang golek yang terbuat dari getuk, makanan khas magelang. Di belakang sang Dalang, terbantang kelir putih seperti layaknya pertunjukan wayang konvensional. Namun Dalang tidak bermain di depan kelir seperti wayang kulit, ia justru seperti seorang pemain boneka yang memainkan boneka sambil bergerak kesana kemari. Dalang memainkan perdebatan Rama yang menyangsikan kesucian Shinta setelah sekian lama hidup di dalam sekapan Rahwana. Ditengah asyiknya Dalang memainkan wayang Rama dan Shinta, tiba-tiba muncul dua aktor bertopeng ke tengah panggung, Rama, diperankan Dhimas Setyo dan Shinta diperankan Poppy Savitri. Mereka melanjutkan perdebatan dan berakhir dengan Adegan Shinta terjun ke tengah 4 penari yang malambangkan api untuk membakar diri sebagai sumpah bukti kesucian. Sebelum menerjunkan diri ke tengah api, Shinta sempat melepas topeng. Barangkali, sutradara ingin mempertunjukkan bahwa Shinta telah melepaskan segala gengsi dan kepura-puraan etis seorang istri raja, menjadi dirinya sendiri dengan memutuskan melakukan sumpah obong.
Bagian 2
Selanjutnya tiba-tiba dalang maju dan berbicara kepada penonton, seperti dalam pertunjukan teater tradisi semacam Lenong, Ludruk dan dagelan Mataraman. Dalang mencoba memancing penonton untuk merenung mendiskusikan apa yang terjadi pada Rama dan Shinta. Menurut sang Dalang, Shinta adalah korban ketidakadilan kodrati, di mana wanita tidak perawan lebih bisa dibuktikan daripada pria tidak perjaka. Dan selalu saja para pria menuntut istrinya masih perawan.
Adegan ini segera dipotong kemunculan Rahwana, diperankan Budiyono didampingi Shinta yang telah menjadi istrinya. Mereka membicarakan tentang kekayaan dan berbagai kebijakan Rahwana sebagai pimpinan Negara yang lalim, namun Shinta mengiyakan saja. Meski Shinta sadar kekeliruan Rahwana, namun karena itu mendukung penampilan dan kesejahteraannya, maka Shinta tetap menyetujui ulah suaminya itu.
Di bagian ini lalu terjadi dialog Rahwana dengan Dalang. Rahwana memprotes dalang yang selalu menyudutkannya, menyebutnya sebagai penjahat dan penrusak alam. Namun, berkat kepiawaian dalang, akhirnya Rahwana menyetujui untuk tetap menjalankan perannya sesuai kehendak sang Dalang.
Berikutnya muncul Laksmana, diperankan Andre. Dalang mempengaruhi Laksmana untuk mengandalkan ketampanannya dan merebut hati Shinta. Meski awalnya Laksmana menolak atas dasar kesetiaanya kepada Rama, kakak kandungnya, namun akhirnya Laksmana terpengaruh hasutan Dalang, iapun segera berangkat menemui Sinta dan menjalankan berbagai model rayuan yang akhirnya berhasil. Shinta meninggalkan Rahwana dan pergi bersama Laksmana.
Bagian 3
Dalang mengantarkan penonton memasuki cerita di tempat lain, yaitu di negeri Kethek (kera). Digambarkan, para kera mengalami penderitaan karena rusaknya hutan yang berakibat kelangkaan sumber air. Anuman, sebagai pimpinan para kera menyerah dan merasa tidak mampu mengatasi masalah. Kembali dalang berperan sebagai penghasut yang membuat Anuman berani bertindak dan memimpin demo memprotes pemerintahan Rahwana yang telah merusak alam mereka.
Rahwana yang sedang linglung karena ditinggal Shinta, tidak mampu berbuat apa-apa dan memerintahkan Kumbakarna, adiknya untuk mengatasi keadaan. Kumbakarna yang dari kostumnya terkesan dari kalangan militer justru tidak tertarik mengatasi demo karena lebih tertarik mengawasi dan mengendalikan pasar modal yang juga sedang terguncang krisis ekonomi global. Merasa perintahnya tidak diindahkan, Rahwana murka dan terjadi perkelahian sengit yang berakhir dengan kekalahan Rahwana.
Pada adegan ini Kumbakarna, Dalang dan seluruh aktor kera serentak bersorak mengucapkan “Eforia!! Kebebasan.. Eforia.. Kebebasan…”
Bagian 4
Adegan menjuju akhir. Rama yang tak lelah berkeliling dunia mencari Shinta akhirnya bertemu Shinta dan Laksmana. Namun Laksmana tidak bersedia memberikan Shinta, merekapun berperang dan dimenangkan oleh Rama.
Setelah melalui pengantar Dalang, Adegan kembali seperti adegan pembuka, Rama dan Shinta. Di sini Rama menyatakan percaya kepada sumpah Sinta, merekapun bersepakat untuk memulai kembali hidup berkeluarga yang penuh cinta dan komitmen untuk saling mendukung… pertunjukan ditutup.
Secara umum, pertunjukan ini menghibur dan membuat banyak penonton menunjukkan wajah-wajah puas. Peragaan wayang golek oleh dalang, adegan tokoh langsung dan adegan siluet di balik kelir, dan para penari disusun bergantian dan menarik. Namun, terdapat beberapa catatan yang penting dari pertunjukan ini: Satu, pertunjukan ini sarat dengan kritik sosial dan politik terutama mengenai masalah-malasah lingkungan yang terjadi di masyarakat setempat (Magelang) seperti krisis air bersih, perusakan hutan dan pengelolaan alam yang tidak ramah lingkungan. Dengan gaya sampakan dan penuh imroviasasi, pertunjukan ini menjadi sangat vocal dan “cerewet” membongkar kebobrokan pemerintah. Meski begitu tetap tidak membosankan karena banyaknya lelucon yang muncul dari semua aktor.
Dua, musik perkusi yang mengiringi pertunjukan ini sebenarnya cukup menarik dan asyik di telinga, namun sayangnya, volume yang meninggi pada adegan-adegan tertentu sering membuat dialog tidak terdengar karena tertutup suara musik. Juga terkesan tidak ada bagian klimaks yang paling tingi, yang ada hanya beberapa puncak-puncak ketegangan yang sama dengan pola tabuhan yang sama setiap kali terdapat puncak ketegangan.
Tiga, Kostum terkesan tidak tertata. Rama, Shinta, Laksmana, dan Hanuman menggunakan kostum keseharian tetapi memakai mahkota versi pewayangan dan topeng kertas, meski pada beberapa adegan topeng dilepas dengan motif yang berbeda tiap-tiap tokoh. Sementara Rahwana menggunakan kostum wayang lengkap dan Kumbakarna berkostum perwira militer berwarna putih lengkap dengan serempang pistol yang diganti sebilah pedang kayu. Meski bergaya komedi sampakan, namun kacaunya kostum ini terasa tidak mendukung, justru di bagian tertentu membingungkan penonton ketika ingin mengidentifikasi tokoh.
Dari tiga catatan ini, bartangkali bisa disimpulkan, bahwa Gepeng Nugroho tidak sedang mempertunjukan sebuah teater sebagai semata suguhan cerita fiksi yang mengilusi, tetapi ia sedang menyuguhkan suatu kumpulan fragmen kasus social masyarakat yang disampaikan melaui penciptaan adegan berselimut petikan cerita Ramayana. Jika benar ia sedang mementingkan penyampaian kritik sosial, maka ia telah meyelesaikan tugasnya, tetapi jika Gepeng sedang berusaha menciptakan pertunjukan teater dengan segenap tuntutan artistik, sepertinya ada beberapa hal yang tertinggal.
M. Ahmad Jalidu. Peminat seni pertunjukan. Tinggal di Yogyakarta