11
March , 2010
Thursday

JiwaTeater.com

Majulah Teater Indonesia

Karya ini berangkat dari keinginan untuk menjelajahi kemungkinan yang lain dari wayang, baik dalam hal ...
Pentas Keliling Dalang Bocah Malam Minggu Kliwon Februari – Desember 2008 27 Desember 2008,19.00 wib, di Solo Square, ...
Ketertindasan bukan melulu beban dan keterpenjaraan. Ketertindasan juga bisa direproduksi sebagai ruang adaptif untuk bertahan. ...
Pukul delapan tepat. Seorang pemuda dengan postur terbilang kecil, menenteng sebuah gitar berjalan ...

Archive for December, 2008

Wayang Lintang Johar di Solo

Posted by dewa01api On December - 27 - 2008 4 COMMENTS

Pentas Keliling Dalang Bocah Malam Minggu Kliwon

Februari – Desember 2008
27 Desember 2008,19.00 wib,
di Solo Square, Jl. Slamet Riyadi, Solo

Dalang Bocah : Anggit Laras Prabowo
Lakon : Wanara Seto

Profil Dalang Bocah
ANGGIT LARAS PRABOWO
Dilahirkan di Karanganyar, 2 Maret 2000 adalah putra bungsu dari keluarga Bapak Purwadi, Kepala Desa Tunggulrejo Jumantono, Matesi, Karanganyar. Saat ini duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri Tunggulrejo kelas 2. semenjak usia 5 tahun mulai mencintai dan senang menonton wayang kulit. Berawal dari menonton kemudian ada minat menjadi dalang. Kemudian terus tekun berlatih menirukan dalang-dalang seperti Ki Manteb Soedarsono, Ki Entus, Bayu Aji melalui VCD maupun pertunjukkan secara langsung. Dan kemudian dibina oleh seorang dalang bernama Ki Waluyo Wignyocarito dari Matesih, Karanganyar. Awal tahun 2007 dititipkan di Padepokan Seni Sarotama sampai sekarang. Pengalaman mendalang sudah terhitung 24 kali, yang terakhir mengikuti pentas dalang dalam rangka Festival Budaya Jawa Tengah di RRI Semarang 30 Mei 2007 dan Pentas Wungonan Gubernur Jawa Tengah di Rumah Dinas Puri Gedeh Semarang.

Penyelenggara:
Mataya arts&heritage bekerja sama dengan Taman Budaya Surakarta, Padepokan Seni Sarotama & SOLO SQUARE

Contact person:
Heru Mataya 0816675808
Email: infomataya@yahoo. com, udandawet@gmail. com

Wayang Getuck “SHINTA OBONG” : Kritik sosial berselimut cerita wayang.

Posted by masjali On December - 21 - 2008 ADD COMMENTS

Komunitas Sosial Teaterikal Magelang menggelar pertunjukan Wayang Getuck “Shinta Obong” di halaman SMK YP 17 Magelang sabtu 20 Desember pukul 20.00 WIB. Pertunjukan yang didukung oleh Environmental Service Program ini melibatkan berbagai komunitas teater di Magelang yang bergabung dalam bendera komunitas Sosial Teaterikal. Sinta Obong, cerita yang diangkat dari cerita wayang Ramayana ini sudah dipelintir sedemikian rupa oleh sang sutradara, Gepeng Nugroho.

Bagian 1

Pertunjukan dibuka dengan devile seluruh aktor dan penari memasuki panggung dengan diiringi tabuhan dari Rupadatu Percution. Lalu adegan dimulai. Seorang Dalang, diperankan Gepeng Nugroho, di panggung bagian tengah, memainkan wayang golek yang terbuat dari getuk, makanan khas magelang. Di belakang sang Dalang, terbantang kelir putih seperti layaknya pertunjukan wayang konvensional. Namun Dalang tidak bermain di depan kelir seperti wayang kulit, ia justru seperti seorang pemain boneka yang memainkan boneka sambil bergerak kesana kemari. Dalang memainkan perdebatan Rama yang menyangsikan kesucian Shinta setelah sekian lama hidup di dalam sekapan Rahwana. Ditengah asyiknya Dalang memainkan wayang Rama dan Shinta, tiba-tiba muncul dua aktor bertopeng ke tengah panggung, Rama, diperankan Dhimas Setyo dan Shinta diperankan Poppy Savitri. Mereka melanjutkan perdebatan dan berakhir dengan Adegan Shinta terjun ke tengah 4 penari yang malambangkan api untuk membakar diri sebagai sumpah bukti kesucian. Sebelum menerjunkan diri ke tengah api, Shinta sempat melepas topeng. Barangkali, sutradara ingin mempertunjukkan bahwa Shinta telah melepaskan segala gengsi dan kepura-puraan etis seorang istri raja, menjadi dirinya sendiri dengan memutuskan melakukan sumpah obong.

Bagian 2

Selanjutnya tiba-tiba dalang maju dan berbicara kepada penonton, seperti dalam pertunjukan teater tradisi semacam Lenong, Ludruk dan dagelan Mataraman. Dalang mencoba memancing penonton untuk merenung mendiskusikan apa yang terjadi pada Rama dan Shinta. Menurut sang Dalang, Shinta adalah korban ketidakadilan kodrati, di mana wanita tidak perawan lebih bisa dibuktikan daripada pria tidak perjaka. Dan selalu saja para pria menuntut istrinya masih perawan.

Adegan ini segera dipotong kemunculan Rahwana, diperankan Budiyono didampingi Shinta yang telah menjadi istrinya. Mereka membicarakan tentang kekayaan dan berbagai kebijakan Rahwana sebagai pimpinan Negara yang lalim, namun Shinta mengiyakan saja. Meski Shinta sadar kekeliruan Rahwana, namun karena itu mendukung penampilan dan kesejahteraannya, maka Shinta tetap menyetujui ulah suaminya itu.

Di bagian ini lalu terjadi dialog Rahwana dengan Dalang. Rahwana memprotes dalang yang selalu menyudutkannya, menyebutnya sebagai penjahat dan penrusak alam. Namun, berkat kepiawaian dalang, akhirnya Rahwana menyetujui untuk tetap menjalankan perannya sesuai kehendak sang Dalang.

Berikutnya muncul Laksmana, diperankan Andre. Dalang mempengaruhi Laksmana untuk mengandalkan ketampanannya dan merebut hati Shinta. Meski awalnya Laksmana menolak atas dasar kesetiaanya kepada Rama, kakak kandungnya, namun akhirnya Laksmana terpengaruh hasutan Dalang, iapun segera berangkat menemui Sinta dan menjalankan berbagai model rayuan yang akhirnya berhasil. Shinta meninggalkan Rahwana dan pergi bersama Laksmana.

Bagian 3

Dalang mengantarkan penonton memasuki cerita di tempat lain, yaitu di negeri Kethek (kera). Digambarkan, para kera mengalami penderitaan karena rusaknya hutan yang berakibat kelangkaan sumber air. Anuman, sebagai pimpinan para kera menyerah dan merasa tidak mampu mengatasi masalah. Kembali dalang berperan sebagai penghasut yang membuat Anuman berani bertindak dan memimpin demo memprotes pemerintahan Rahwana yang telah merusak alam mereka.

Rahwana yang sedang linglung karena ditinggal Shinta, tidak mampu berbuat apa-apa dan memerintahkan Kumbakarna, adiknya untuk mengatasi keadaan. Kumbakarna yang dari kostumnya terkesan dari kalangan militer justru tidak tertarik mengatasi demo karena lebih tertarik mengawasi dan mengendalikan pasar modal yang juga sedang terguncang krisis ekonomi global. Merasa perintahnya tidak diindahkan, Rahwana murka dan terjadi perkelahian sengit yang berakhir dengan kekalahan Rahwana.

Pada adegan ini Kumbakarna, Dalang dan seluruh aktor kera serentak bersorak mengucapkan “Eforia!! Kebebasan.. Eforia.. Kebebasan…”

Bagian 4

Adegan menjuju akhir. Rama yang tak lelah berkeliling dunia mencari Shinta akhirnya bertemu Shinta dan Laksmana. Namun Laksmana tidak bersedia memberikan Shinta, merekapun berperang dan dimenangkan oleh Rama.

Setelah melalui pengantar Dalang, Adegan kembali seperti adegan pembuka, Rama dan Shinta. Di sini Rama menyatakan percaya kepada sumpah Sinta, merekapun bersepakat untuk memulai kembali hidup berkeluarga yang penuh cinta dan komitmen untuk saling mendukung… pertunjukan ditutup.

Secara umum, pertunjukan ini menghibur dan membuat banyak penonton menunjukkan wajah-wajah puas. Peragaan wayang golek oleh dalang, adegan tokoh langsung dan adegan siluet di balik kelir, dan para penari disusun bergantian dan menarik. Namun, terdapat beberapa catatan yang penting dari pertunjukan ini: Satu, pertunjukan ini sarat dengan kritik sosial dan politik terutama mengenai masalah-malasah lingkungan yang terjadi di masyarakat setempat (Magelang) seperti krisis air bersih, perusakan hutan dan pengelolaan alam yang tidak ramah lingkungan. Dengan gaya sampakan dan penuh imroviasasi, pertunjukan ini menjadi sangat vocal dan “cerewet” membongkar kebobrokan pemerintah. Meski begitu tetap tidak membosankan karena banyaknya lelucon yang muncul dari semua aktor.

Dua, musik perkusi yang mengiringi pertunjukan ini sebenarnya cukup menarik dan asyik di telinga, namun sayangnya, volume yang meninggi pada adegan-adegan tertentu sering membuat dialog tidak terdengar karena tertutup suara musik. Juga terkesan tidak ada bagian klimaks yang paling tingi, yang ada hanya beberapa puncak-puncak ketegangan yang sama  dengan pola tabuhan yang sama setiap kali terdapat puncak ketegangan.

Tiga, Kostum terkesan tidak tertata. Rama, Shinta, Laksmana, dan Hanuman menggunakan kostum keseharian tetapi memakai mahkota versi pewayangan dan topeng kertas, meski pada beberapa adegan topeng dilepas dengan motif yang berbeda tiap-tiap tokoh. Sementara Rahwana menggunakan kostum wayang lengkap dan Kumbakarna berkostum perwira militer berwarna putih lengkap dengan serempang pistol yang diganti sebilah pedang kayu. Meski bergaya komedi sampakan, namun kacaunya kostum ini terasa tidak mendukung, justru di bagian tertentu membingungkan penonton ketika ingin mengidentifikasi tokoh.

Dari tiga catatan ini, bartangkali bisa disimpulkan, bahwa Gepeng Nugroho tidak sedang mempertunjukan sebuah teater sebagai semata suguhan cerita fiksi yang mengilusi, tetapi ia sedang menyuguhkan suatu kumpulan fragmen kasus social masyarakat yang disampaikan melaui penciptaan adegan berselimut petikan cerita Ramayana. Jika benar ia sedang mementingkan penyampaian kritik sosial, maka ia telah meyelesaikan tugasnya, tetapi jika Gepeng sedang berusaha menciptakan pertunjukan teater dengan segenap tuntutan artistik, sepertinya ada beberapa hal yang tertinggal.

M. Ahmad Jalidu. Peminat seni pertunjukan. Tinggal di Yogyakarta

Lelaki yang Terindah dan Nikmatnya Kopi

Posted by masjali On December - 21 - 2008 ADD COMMENTS

Pukul delapan tepat. Seorang pemuda dengan postur terbilang kecil, menenteng sebuah gitar berjalan tenang menuju panggung kecil di salah satu sudut Djambur Coffee, Karang Asem Baru Catur Tunggal. Beberapa saat kemuadian ia mulai menyanyi ditemai petikan gitar berirama blouse dan lalu mulai berbicara. Dia menceritakan diri sebagai seorang aktor yang jatuh cinta pada seorang lelaki kapster sebuah salon di Jakarta. Logat bicaranya yang cedal dan suaranya yang cenderung lembut untuk ukuran lelaki membuat pengunjung café itu serius mendengarkan sang aktor.

Demikianlah, selama hamper I jam, Alex Suhendra mempertunjukkan kemampuan aktingnya yang tenang dalam pertunjukan monolog berjudul Lelaki yang Terindah. Acara yang diprakarsai Gargut Entertainus ini berlangsung di Djambur Coffee, Karang Asem Baru, Catur Tunggal selama dua malam yaitu 18 dan 19 Desember lalu.

Monolog ini diadaptasi dari cerpen berjudul sama karya Seno Gumira Ajidarma, menceritakan keluh kesah seorang gay yang pernah mencintai wanita, lalu menemukan sang pria terindah yang membuatnya jatuh cinta dan akhirnya ia tinggalkan kembali setalah sang lelaki terindah ini mengajak menikah.

Alex Suhendra yang seorang alumni program belajar akting Actor Studia Teater Garasi ini benar-benar menunjukkan kualitasnya hanya dengan pertunjukan yang sangat simple. Panggung tabpa set, ia hanya ditemai sebuah gitar, sebuah microphone dan sebuah sound amplifier untuk gitarnya. Ia memang oernah mementaskan naskah ini pada tahu 2007 di Museum Benteng Vredeburg, namun yang istimewa kali ini adalah tenpat pertunjukannya yang sangat pas dengan konsep yang ia pilih. Lelaki yang terindah dikemas layaknya one man play atau one stand comedy yang sering dijumpai di café-café di Amerika Eropa. Lelaki yang Terindah meluncur di tengah-tengah kafe di mana para waiters berseliweran dan sesekali terdengar denting sendok beradu piring juga gemuruh juicer menyela pertunjukan. Meski tidak didukung gempita penonton yang berlebihan, tetapi nampak bahwa nikmatnya kopi di meja Djambur Coffee malam itu, serasa lebih lengkap dengan hadirnya Alex dan Lelaki yang Terindah-nya

M. Ahmad Jalidu. Peminat Seni Pertunjukan, tinggal di Yogyakarta.

Monolog Tegalan “Krosi” Eko Tunas

Posted by dewa01api On December - 17 - 2008 2 COMMENTS

Eko Tunas akan menyuguhkan monolog bertajuk Krosi di tiga kota. Pentas dengan bahasa Tegalan itu akan digelar di Rembang (21/12), Kudus (22/12), dan Jepara (23/12). Pertunjukan itu sebelumnya pernah ditampilkan di beberapa kota seperti Jakarta, Tegal, dan Jogja. Pagelaran besok didukung oleh Artpro, Reinkarnasi, Padepokan Seni Murni Asih, dan Jaringan Teater Pelajar Jepara. [

Recent Comments

Jabat erat dari JiwaTeater.com. Situs ini dibangun sebagai media bersama teater Indonesia. Berniat untuk mengisi kekosongan media informasi pecinta teater. Untuk pengiriman materi berupa liputan pertunjukan, dokumentasi foto pertunjukan (baru maupun lama), esai seputar teater, tips atau panduan teknis, naskah drama dan lain-lain dapat dialamatkan ke salah satu dari alamat email berikut : masjali@yahoo.com, atau jogjateater@gmail.com, atau dewa01api@yahoo.com Pengelola Arahman Ali (Bandung) Ahmad Jalidu (Jogja)

Recent Comments

Teater Indonesia Harus Menciptakan Tradisinya Sendiri

On Feb-10-2010
Reported by dewa01api

Kolaborasi Seniman Gelar Teater AIDS

On Dec-9-2008
Reported by jiwateater

Sayembara Penulisan Lakon Realis Komunitas Salihara

On Jan-16-2010
Reported by dewa01api

Anugerah FTI dan HUT ke-5 FTI

On Dec-24-2009
Reported by dewa01api

Joko Kamto : Aktor Teater Yang Anggun Aktingnya

On Dec-10-2008
Reported by masjali