12
March , 2010
Friday

JiwaTeater.com

Majulah Teater Indonesia

Pukul delapan tepat. Seorang pemuda dengan postur terbilang kecil, menenteng sebuah gitar berjalan ...
Federasi Teater Indonesia (FTI) kembali menyelenggarakan perayaan teater Indonesia, pada 27 Desember 2009, dari pukul ...
Pentas Keliling Dalang Bocah Malam Minggu Kliwon Februari – Desember 2008 27 Desember 2008,19.00 wib, di Solo Square, ...
Komunitas Sosial Teaterikal Magelang menggelar pertunjukan Wayang Getuck "Shinta Obong" di halaman SMK ...

Archive for January, 2009

PIDATO BOSS PADA RUMAH DAN TETESAN

Posted by masjali On January - 15 - 2009 ADD COMMENTS

“Apa kamu percaya kalau kamu tertawa tapi sebenarnya kamu menangis ..? tidak ..? kalau begitu kamu bahagia. Tidak seperti kami, tidak seperti robot ini, bangkai ini, badut besar ini..! kami harus tetap yakin dan setia meskipun tahu semua ini salah. Kamu dengar ..? kami bahkan tidak punya hak untuk merasa berdosa , itu tabu ..!!. sebagaimana semua sistim, ini adalah pembunuhan diri, tapi kami tidak berhak mati , kami harus hidup, karena kami harus menang.

” Sebuah petikan naskah Boss karya Putu wijaya”

Riang sorak ramai ketika itu , langit mulai menggumpal dengan awan hitam ” tak terasa hari telah menginjak malam! Sebuah sanggar teater  yang sederhana telah melakukan aktivitas (latihan) ketika itu, sebuah proses running tiga naskah monolog yang disutradarai oleh Bagus Mahayasa mewarnai suasana di Jl. Benteng Pancasila 62 Kota Mojokerto  setiap hari.

Tiga naskah monolog ini dimainkan oleh tiga orang aktor masing-masing Mach. Novianto dalam naskah “Boss” karya Putu Wijaya, pendiri teater Mandiri Jakarta. Naskah Boss ini ditulis dan dihadiahkan untuk almarhum Alimin Lasasi yang meninggal pada tanggal 28 september 1989, Ia merupakan salah satu aktor terbaik dari Teater Mandiri. Buyung Akhirul Akbar dalam naskah “Pidato” Karya Putu Fajar Arcana, seorang wartawan seni budaya harian Kompas dan Siti Mafruka dalam naskah “Rumah dan Tetesan” karya Riris K. Toha Sarumpaet, seorang guru besar tetap di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Ketiga reperoar akan ditampilkan sekaligus pada satu panggung oleh Lidhie Art Forum dan berlangsung satu hari  saja.

Dalam naskah Pidato karya Putu Fajar Arcana, Buyung Akhirul Akbar berperan sebagai sesosok pemuda yang telah dirasuki oleh roh seorang korban kekejaman masa pemberontakan PKI, yang mana ia tidak suka dengan hal yang berbau politik dimana ia menganggap bahwa orang-orang politik merupakan orang yang suka mencla-mencle. Seorang politikus yang dengan mudah mengumbar impian pada rakyat kecil yang mengatakan pada mereka bahwa mereka sanggup melepaskan penderitaan rakyat kecil yang selama ini dijerat hutang oleh para tuan tanah. Dengan tubuh yang diperankan oleh Buyung inilah ia mencoba berpidato dihadapan semua orang untuk menyampaikan semua hal yang menjadi keluhannya saat itu.

Sedangkan naskah Rumah dan Tetesan yang diperankan oleh Siti Mafruka, berbicara tentang seorang Ibu yang berperan dalam rumah tangga yang harus ia jalani sendiri tanpa seorang suami yang menemaninya dalam kehidupan. Ia harus berkorban untuk kedua anak yang dicampakkan dan dibiarkan oleh sang Ayah serta kehilangan kasih sayang. Dia tak sanggup memikirkan apa yang terjadi pada anak-anaknya hanya dengannya, Ia merasa, bagaimana impian mencapai tertinggi tidak sepenuhnya membuat dia lengkap. Siti Mafruka disini mencoba menggambarkan seorang Ibu yang bingung memahami posisi seorang Ibu dalam rumah tangga , tapi meski demikian akhirnya Ia menemukan bahwa ternyata bukan sebuah keluarga kokoh, Ia mendamba bahagia banyak orang, karena bahagia adalah kita semua, yang menerima dan yang menyerahkan, yang serumah dengan perbedaan.

Dalam naskah Boss karya Putu Wijaya yang diperankan oleh Mach. Novianto ini bercerita tentang kesenjangan antara Boss dan bawahannya di dalam suatu pekerjannya. Tersiksa dengan apa yang telah dilakukan oleh si Boss tersebut dan merasa cemburu dengan bawahannya. Hidup yang tidak tenang telah dialami terus setiap hari, kadang terasa jenuh dengan pekerjaannya, kadang merasa tidak nyaman dengan hidupnya yang telah dijalani. Kekhawatiran yang dialaminya seperti terjerat, terperosok ke dalam lubang pikirannya yang dalam dan jauh. Kesulitan yang terhindar oleh si bawahan ternyata sudah tak terbendung lagi bahwa ia harus tutup mulut tak peduli apa dan siapa yang ada dihadapannya.

Pentas monolog tiga naskah ini merupakan salah satu agenda pentas keliling 5 kota yang dipimpin oleh Adrian Dwi C sebagai pimpinan produksi. Kelima kota tersebut adalah Probolinggo, Nganjuk, Pasuruan, Ponorogo, dan Blitar. Agenda pementasan keliling ini merupakan agenda rutin dari sanggar Lidhie Art Forum (LAF) Mojokerto yang dipimpin oleh Bagus Mahayasa. Probolinggo adalah kota pertama yang akan dijadikan tempat pentas pertama mereka. Dengan menjalin kerja sama dengan pihak SMAN 4 Probolinggo, tiga naskah monolog ini akan dipentaskan di aula SMAN 4  Probolinggo yang beralamat di Jl. Slamet Riyadi Kanigaran Probolinggo pada hari Minggu tanggal 25 Januari 2008 pukul 19.00 WIB. Disamping agenda pentas keliling 5 kota ini, Lidhie Art Forum (LAF) Mojokerto memliki agenda rutin lainnya seperti workshop keaktoran, diklat teater pelajar, dialog budaya, dll.

Untuk lebih menjalin hubungan dengan pihak Lidhie Art Forum (LAF) Mojokerto dapat lewat contact person Lidhie Art Forum (LAF) Mojokerto : 0856 486 10191 (Buyung), 0852 308 88303 (Siti Mafruka), 0856 457 45176 (Adrian Dwi C) atau e-mail pada alamat : komunitas_laf_ mr@yahoo. co.id atau add as friend via alamat friendster : lidhieartforum@ gmail.com. (***)

TEATER UNTUK SEMUA DI BANTEN TV

Posted by masjali On January - 14 - 2009 2 COMMENTS

Geliat teater di Banten disambut baik oleh TV lokal pertama di Banten, Banten TV, dengan membuat program ”Panggung Rumah Dunia: Teater Untuk Semua”. Bekerja sama dengan Rumah Dunia, Banten TV secara live akan menayangkan program dialog interaktif di minggu ketiga setiap bulannya. ‘Tayangan perdana adalah sosialisasi program, live pada 23 Januari nanti. Pukul 19.30,” kata Benyamin Rasyid, GM Banten TV.

Rumah Dunia selaku pelaksana sedang berbenah diri menyiapkan panggung. ”Backdrop layar hitam dan puih sudah dipasang,” Dedi Setiawan, PJ Teater Rumah Dunia, menegaskan. ’Lighting pun ada sekitar 18 buah. Siaplah!” Dedi menambahkan, pertunjukkan pertama pada Sabtu, 24 Januari 2009, pukul 19.30. ”Sebagai pemanasan, teater Casanova dari STSI Bandung siap tampil!” Pementsan itu akan disiarkan di Banten TV pada 30 Januari 2009, pukul 19.30.

Keunikan program ini, adalah tampilnya kelompok musikalisasi Ki Amuk, pimpinan Firman Venayaksa, Presiden Rumah Dunia, yang akan membawakan lagu-lagu dimana liriknya dari sajak-sajak yang ditulis penyair Banten. ”Sajak-sajak Toto ST Radik, Gola Gong, dan Tias Tatanka sudah jadi lagu. Bahkan kami sedang siap-siap masuk dapur rekaman. dananya dari buruh migran asal Serang, namanya Lawang Bagja, yang kini sedang mendulang dinar di Dubai!” Firman optimis.

Sekitar 12 kelompok teater pelajar dan mahasiswa di Banten sudah siap mengisi program ”Panggung Rumah Dunia” Teater Untuk Semua”. Gola Gong, eksekutif produser Banten TV berharap, ”Dengan kegiatan rutin perbulan ini, seoga Pemprov Banten menyegerakan pembangunan gedung kesenian atau Taman budaya Banten!” (*)

Sikap Orang-Orang Teater Indonesia

Posted by masjali On January - 3 - 2009 4 COMMENTS

Oleh : Ali Syamsudin Arsi

Sepanjang sejarahnya, teater Indonesia senantiasa bekerja dengan segala perjuangan dan pengorbanan, di tengah berbagai keterbatasan sarana dan prasarana.

Pada kenyataannya, dengan berbagai keterbatasan itu, teater Indonesia tetap memberikan dedikasi dan kontribusi bagi bangsa dan Negara dalam upaya pencerdasan dan pembangunan moral bangsa melalui symbol-simbol budaya yang dihasilkannya.

Meski demikian, teater Indonesia belum mendapatkan apresiasi dan dukungan yang memadai dari stake holder teater terutama peyelenggara Negara.

Menyadari fakta-fakta tersebut, dengan ini Federasi Teater Indonesia menyatakan sikap: 1. Pembangunan bangsa dan negeri ini semestinya dilandasi pada hal-hal yang berdimensi immaterial (budaya), dan tidak lagi hanya didominasi oleh ukuran-ukuran yang sifatnya material. 2. Untuk itu nagara cq pemerintah sebagai penanggung-jawab utama, selayaknya secara tegas menempatkan produk-produk kebudayaan dalam hal ini kesenian, lebih khusus lagi seni teater, dalam pondasi dasar pembangunan dengan mencantumkan kesenian secara eksplisit dalam konstitusi. 3. Menolak penggunaan otoritas negara yang menghalangi segala macam bentuk ekspresi artistic, lebih khusus lagi seni teater.

Adalah Radar Panca Dahana sebagai ketua Federasi Teater Indonesia (FTI) yang dengan sangat percaya diri menanda-tangani surat pernyataan sikap itu. Penanda tanganan dilakukan di Wisma Bumi Asih Jakarta pada 28 Desember 2008 yang lalu, diikuti pula oleh Ali Syamsudin Arsi (Kalsel), Asmadi,S.Sn (Sulbar), Badrudin Noor (Kaltim), Bambang Pribadi (DKI Jakarta), Bara Pattyradja (NTT), Didik Wahyudin (Jatim), Didin Sirojudin (Jambi), Edwin Fast (Sumsel), Indra Amus (Bengkulu), Iswadi Pratama (Lampung), Komang Ira Puspitaningsih (Bali), Retno Sayekti Lawu (Jateng), Nandang Aradea (Banten), Teuku Yanuarsyah (Aceh), Wendi HS (Sumbar), Willy Siswanto (Bangka Belitung), Yosef Muldiana (Jabar), Zainuddin M. Arie (Maluku Utara), Zulham Effendi (Batam), dan Zulkifly Pagessa (Sulteng).

Nama-nama yang tercantum di atas tersebut kecuali Ketua FTI, telah pula melahirkan sebuah memorandum kesepakatan Federasi Teater Indonesia, yang bunyi lengkapnya adalah : Dengan ini, kami peserta rapat Korda 1 – FTI 2008, bersepakat dan menyetujui : 1. Federasi Teater Indonesia (FTI) adalah wadah bagi seluruh aktivis beserta bagian=bagian masyarakat lainnya yang berkepentingan (stake holder) dengannya, 2. Pendirian Federasi Teater Indonesia beserta AD/ART, Pengurus, dan programnya, 3. Secara individu menjadi coordinator untuk sosialisasi dan inisiasi ide serta pendirian FTI di daerahnya masing-masing, 4. Mendukung, melaksanakan dan mengembangkan tugas-tudas serta tujuan FTI untuk memajukan harkat dan derajat teater dalam kehidupan secara luas, 5. Bekerjasama dengan seluruh warga FTI dalam merealisasikan gagasan dan mengatasi halangan yang ditemui tiap warga FTI dalam menjalankan proses kreatifnya.

Itulah bunyi memorandum kesepakatan yang dicetuskan oleh Federasi Teater Indonesia, dan hemat saya semua itu akan menjadi sia-sia belaka bila tidak ada upaya niat baik dari semua pihak untuk melaksanakannya. Sekalipun dalam lingkup berpikir yang beragam dan bermacam kepentingan pula. Terlepas dari itu, adalah sebuah upaya sosialisasi telah pula saya lakukan agar semua pihak dapat memahami tentang pergulatan orang-orang teater dengan segala pernik dunianya.

Kiranya menjadi sesuatu yang elok bila saja setiap insan kesenian, terlebih khusus teater bersedia untuk membangun bersama dunia teaternya di seluruh tanah air tercinta Indonesia. Sebuah tawaran positif untuk menepiskan hal-hal yang masih memang perlu dilakukan. Dan FTI telah memulai untuk berbuat, walau pun disadari secara penuh bahwa perjuangan semacam ini boleh jadi telah berlangsung lama, tetapi masih dalam gerak-gerak sporadis, tersebar sebagai letup-letup kembang api di seantero jagat nusantara. Adakah kalian dengar suara kami. Kami orang-orang kesenian. Kami orang-orang teater.

Lalu pertanyan besarnya adalah, makhluk jenis apakah FTI itu ?

Selayang Pandang FTI.

Berangkat dari satu ide dalam sebuah pertemuan dan diskusi kecil antara pekerja teater di rumah Radar Panca Dahana pada tahun 2000. Pertemuan itu membicarakan perkembangan teater Indonesia, menuangkan kegelisahan dan berbagai persoalan yang ada di dalamnya. Pertemuan terus berlanjut hingga tahun 2004 yang dilakukan secara bergerilya dan berpindah tempat hingga kemudian memunculkan satu pemahaman bersama tentang posisi teater yang inferior ketika berhadapan dengan lembaga-lembaga di luar dirinya.

Dengan beberapa identifikasi masalah; rendahnya apresiasi public pada produksi teater, lemahnya posisi teater dan pekerja teater dalam relasi politik-ekonomi-sosial, kecilnya akses pada berbagai fasilitas social-ekonomi-politik, daya juang para pekerja teater yang berjalan secara individual, dan kurangnya kebersamaan atau kolektifitas sebagai factor utama kemajuan teater.

Dari sana kemudian sekitar 250 group teater di wilayah JABODETABEK ditambah tokoh-tokoh senior teater Indonesia dengan kesadaran penuh berkumpul pada 27 Desember 2004 di Teater Halaman Taman Ismail Marzuki untuk mendeklarasikan berdirinya Federasi Teater Indonesia yang bertujuan; 1. Memperjuangkan secara kolektif tegaknya hak ekspresi dan hak cultural para pekerja teater di seluruh wilayah Republik Indonesia, 2. Menyokong dan mendorong, penciptaan, penerbitan dan penyebarluasan karya seni pertunjukan oleh kelompok teater dan atau para pekerja teater tanpa memandang perbedaan kulit, jenis kelamin, agama, suku atau bangsa, 3. Menunjang pengembangan kualitas artistic dan manajerial dari kelompok teater dan pekerja teater dengan mengupayakan semua kebutuhan non-artistik, prasarana dan infrastruktur seni pertujukan Indonesia secara umum, 4. Memperluas dan mengembangkan minat dan apresiasi masyarakat umum terhadap karya seni pertunjukan.

Adapun sasarannya adalah; 1. Semua pekerja teater tanpa membedakan kemampuan, usia, golongan, daerah, etnik, dan sebagainya, 2. Pengusaha, pejabat pemerintah, kaum professional, tenaga akademis, dan semua elemen masyarakat yang berkepentingan langsung dengan seni teater.

Dalam usianya yang keempat tahun, FTI telah menyelenggarakan pelbagai kegiatan, antara lain : 1. Aksi keprihatinan malam dana dan panggung ekspresi solidaritas tsunami Aceh, 2. Sosialisasi, dengan melakukan pertemuan-pertemuan dengan stake holder (dari kalangan pengusaha, pejabat atau yang dilakukan untuk kebutuhan internal), 3. Refleksi tahunan Hari Jadi FTI, 4. Pelatihan teater untuk peningkatan mutu pengajaran Guru SD, SMP, SMA, 5. Workshop keaktoran dan Penulisan Naskah Drama, 6. Anugerah FTI untuk Teaterawan Indonesia dan pihak-pihak yang berjasa pada teater, 7. Festival Monolog Area Publik, 8. Sayembara penulisan naskah drama nasional, 9. Diskusi teater tiga bulanan, 10. Labo teater, 11. Kursus-kursus ilmu-ilmu social.

Kerjasama, a) Kolaborasi/kerjasama diselenggarakan untuk kepentingan srtistik maupun manajerial, b) Internal: dengan komunitas teater dan atau komunitas budaya dalam negeri. Eksternal : dengan komunitas teater dan atau komunitas/ institusi manca Negara.

Keanggotaan.

Keanggotaan FTI berasal dari berbagai kalangan, baik kelompok maupun perseorangan, seperti: Aktor, Sutradara, Penulis Naskah, Skenografer (piñata panggung), Produser, Manajer seni pertunjukan, Kritukus Teater, dan profesi yang sejalur.

Bila ada yang berminat maka jangan ragu ikut mengalir bersamanya, dengan mengisi formulir pendaftaran yang bisa diperoleh dengan cara: mendownload forrmulir keanggotaan dari situs wb htt://www.federasiteaterindonesia.com atau mengirimkan e-mail ftindonesia@yahoo.com atau faxmili +6221 564 5655 atau surat dengan mencantumkan nama dan alamat jelas dan formulir keanggotaan akan dikirim ke alamat anda.

Nah, rekan-rekan pekerja teater yang ada di banua banjar ini, memperluas jaringan dan membuka wawasan sampai ke luar negeri adalah bukan mimpi untuk dapat tampil di kancah panggung teater dunia. Salam hangat dari  = alisyamsudinarsy@yahoo.co.id = Mari memulai langkah, malimbai bersama walau kadang pikiran kita tidaklah mesti sama. Itulah dunia. Itulah teater kita punya nama.

Hardjono WS, Seniman Kreatif Itu Kini Tergolek Sakit

Posted by masjali On January - 3 - 2009 ADD COMMENTS

Hampir Seminggu di Rumah Sakit, Baru Ditangani Dokter Spesialis

Di sini tinggal orang-orang yang tak pernah tidur dan mengeluh

Karena putih matanya telah menjadi bianglala (Hardjono WS)

KHOIRUL INAYAH, Mojosari

—[ Kamis, 01 Januari 2009 ]

SEBAIT syair di atas nyaris tak terpisahkan dengan seniman yang tinggal di Desa Jatidukuh, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, Hardjono WS. Dan, ia benar-benar tidak mengeluh ketika kondisi tubuhnya drop pada Hari Natal lalu dan hingga kini tergolek lemas di RSUD Prof dr Soekandar Mojosari.

Saat koran ini bertandang ke RSUD bersama networker kebudayaan Abdul Malik kemarin siang, di ruangan tempatnya dirawat, hanya Marwiah Derang istrinya yang setia menunggu. Sesekali diusapnya rambut Hardjono yang sebagian besar telah memutih itu. ”Pa, ada tamu datang,” ujar Marwiah, ujarnya lembut sembari mengecup kening suaminya.

Dua mata yang semula terkatup itu berangsur membuka. Meskipun sudah mulai ada sedikit perubahan, namun tubuh Hardjono masih sangat lemah. Selang infus masih terhubung pada lengan kanannya. ”Apa kabar?” ujarnya dengan terbata ketika koran ini menyapa.

Bagi istrinya, ini sudah menjadi perkembangan yang berarti. Saat dibawa ke RSUD, 25 Desember lalu, tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan, matanya menatap kosong, dan tidak bisa berbicara. ”Biasanya setiap orang yang bertandang, Papa tidak mengenal sebelum saya kasih tahu. Tetapi, terhadap anda, papa langsung mengenalnya. Ini perkembangan yang bagus,” kata wanita asal Bugis tersebut.

Bagi Marwiah, tergoleknya Hardjono di RSUD ini membuyarkan rencana liburannya ke tanah asalnya Bugis yang sudah lama ia tinggalkan. Sebagai suami, Hardjono mengajak istrinya berlibur ke kampung halaman istrinya bersama Bintang anaknya. ”Papa bilang, Ma, nanti kalau novel saya dapat juara kita gunakan berlibur ke Bugis ya,” ujar Marwiah menirukan suaminya.

Namun, kondisi berkata lain. Tepat 25 Desember ia mendapati suaminya tergolek di depan televisi seusai bekerja di depan komputer. Sayangnya, pagi itu, ia belum juga sadar bahwa suaminya dalam kondisi pingsan. ”Pagi itu pukul 06.00 saya lihat papa tidur di depan TV, saya kira ya tidur biasa saja. Waktu saya bangunkan untuk sarapan pagi barulah saya sadar kondisi yang sebenarnya,’ ‘ kata Marwiah, yang segera membawa suaminya ke RSUD bersama Sukiyat.

Lalu, sakit apa Hardjono WS? Dikatakan istrinya, diduga Hardjono mengalami penyumbatan pada pembuluh darah otak kirinya. Ini yang menyebabkan syaraf motorik Hardjono tidak berfungsi. Sayangnya, diagnosa ini baru bisa ditegakkan kemarin lusa ketika spesialis syaraf datang dari Surabaya. ”Sebelumnya hampir seminggu ditangani dokter umum saja sehingga tidak diketahui penyebab pastinya,” ujar Mbak Wik, panggilan akrab Marwiah. Pihaknya juga sangat menyayangkan keterlambatan penanganan ini. ”Selama di sini, ya baru kemarin dikunjungi dokter spesialis syaraf,” katanya.

Sakit yang menimpa penulis naskah teater anak Layang-Layang ini cukup menyengat para seniman. Secara bergantian, seniman -tidak hanya dari Mojokerto–datang menjenguk. Belasan kawan-kawan dari komunitas seni menyempatkan diri berkunjung.

Antara lain, pengurus Dewan Kesenian Jawa Timur diwakili Syahlan Husein (sekretaris umum), Meimura (Bendahara), Koesen LD (Padepokan Bumi Pakarti Aji, Pacet), Cak Kadaruslan (Pusura Surabaya) dan istri, Sirikit Syah (Surabaya) dan suami, Harriyadie BS (Sidoarjo), perupa Mojokerto Alfie Fauzie, Nanang, Joni Ramlan, Hadi Sucipto, Samsul Hadi, Agus Widodo, Anik, Bung Gono, Irul, Affandi Abdul Hadi (Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto), Eko Edy Susanto (Ludruk Karya Budaya Mojokerto), Cak Supali, Heri Purwanto (caleg Partai Demokrasi Pembaruan Propinsi Jatim), Anang Timoer (Surabaya), M Arif (pekerja teater, Mojokerto), Ribut Sumiyono dan Nanang Moeni (pematung batu Trowulan), komunitas sastra pondok kopi Pacet Dadang Ari Murtono dan Samsul Arifin; sejumlah guru sebuah SMP di Gondang; Markus (pemijat, Mojokerto), Suliadi (penulis puisi, Mojokerto).

Meimura berharap agar Pemkab Mojokerto memperhatikan kondisi Hardjono WS. Sebab, sebagai putra daerah, Hardjono WS telah ikut serta mengharumkan nama daerah ini. Dia pernah mengharumkan nama Indonesia yang mendapatkan penghargaan dunia melalui Unesco bersama 14 pengarang Asia Pacifik mewakili penulis teater anak-anak. Ia satu-satunya pengarang dari Indonesia pada waktu itu. Dan sampai sekarang belum ada satu pun warga Mojokerto yang mendapatkan penghargaan yang sama.

Selain itu, tak terhitung lagi penghargaan baik tingkat regional maupun nasional yang didapatkan sosok yang lahir pada 11 maret 1945 ini. Antara lain, Lembaga Indonesia Amerika lewat Dewan Kesenian Jakarta berupa Award khusus teater, Juara I puisi Jatim versi Dewan Kesenian Surabaya, tiga naskah teater anak-anaknya jadi juara Jatim versi Dewan Kesenian Surabaya, tiga naskah teater anak anak juara nasional versi Dewan Kesenian Jakarta. Naskah televisi juara nasional versi TVRI Surabaya dan masih banyak lagi. (yr)

(Harian Jawa Pos)

Recent Comments

Jabat erat dari JiwaTeater.com. Situs ini dibangun sebagai media bersama teater Indonesia. Berniat untuk mengisi kekosongan media informasi pecinta teater. Untuk pengiriman materi berupa liputan pertunjukan, dokumentasi foto pertunjukan (baru maupun lama), esai seputar teater, tips atau panduan teknis, naskah drama dan lain-lain dapat dialamatkan ke salah satu dari alamat email berikut : masjali@yahoo.com, atau jogjateater@gmail.com, atau dewa01api@yahoo.com Pengelola Arahman Ali (Bandung) Ahmad Jalidu (Jogja)

Recent Comments