Hamlet Carnivora: Kekuasaan, Seks, Kekerasan
Dayang Sumbi yang awet muda terlihat asyik mengulek bumbu, berhadapan dengan Hamlet yang merengek-rengek lapar. Sebagai ibu baik, Dayang Sumbi meminta Hamlet untuk berburu, berburu apa saja selama itu berdaging. Inilah sepenggal adegan dalam pertunjukan teater Shakespeare Carnivora yang disutradarai Benny Yohanes dan Irwan Jamal dibawah bendera Oyag Forum. Pertunjukan berlangsung 1-2 April 2009 di Gedung Kesenian Sunan Ambu, STSI Bandung. Namun janganlah terjebak, ini bukanlah pertunjukan kisah Dayang Sumbi dan Hamlet. Ini hanyalah kisah nafsu kekerasan, seks dan kekuasan yang selalu bersemayam di dalam diri manusia.
Pertunjukan ini dibagi dalam tiga segmen: Kisah Lama, Sekolah Carnivora dan Sekolah Baru. Ketiga segmen tersebut saling berkaitan, membawa tekanan cerita tersendiri. Segmen pertama memberi tekanan pada kekerasan yang bermuara dalam keluarga. Segmen kedua, memberi porsi terbesar pada reproduksi kekerasan melalui sekolah dan sejarah. Segmen ketiga, kekerasan psikis dan kekerasan fisik yang dialami perempuan. Ketiga segmen tersebut sebenarnya bisa berdiri sendiri, dapat dipentaskan secara terpisah. Ketiga segmen tersebut dirajut melalui tokoh Hamlet dan Dayang Sumbi.
Pementasan ini berkisah ihwal kekerasan yang sudah berlangsung ribuan tahun, dari mula sejarah ditulis hingga hari ini. Kekerasan diwariskan turun-temurun sebagai sesuatu yang sakral dan perlu dilakukan. Sama seperti pewarisan genetis dalam mahluk hidup. “Kekerasan itu enak dan perlu!” dogma Hamlet. Hamlet sebagai pembawa cerita, contoh terbaik bagaimana kekerasan, seks dan kekuasaan diwariskan pada manusia. Karakter Hamlet selalu hadir dalam semua bangsa dan sepanjang sejarah manusia: ambisius, suka membunuh, menindas. Sedari kecil Hamlet berada dalam lingkung keluarga yang menjunjung tinggi kekerasan dan kekuasaan. Dalam keluarga yang mengaku pewaris darah pemburu ini, tak ada tatanan norma sosial yang perlu dipatuhi. Aturan disusun untuk mendukung kekuasaan, bukan sebaliknya. Tumang juga memberikan pengaruh kekerasan yang tanpa ampun: membunuh bukanlah sesuatu yang perlu disesali. Selama kepentingan perlu direbut, kekerasan diperkenankan. Hamlet-hamlet dalam semua bangsa dididik dalam keluarga kekerasan seperti ini.
Dari pertunjukan ini menarik pembawaan laku oleh Nugraha Bazier (Tumang, Nyoto), Heksa Ramdono (Hamlet Bangkit), Semmi Ikra Anggara (Butthead), Kantini Soleha (Dayang Sumbi), dan Sugiyanti (Kartini). Bazier dan Heksa bermain lepas, mengalir sesuai peran yang diusung. Keduanya memang dilahirkan untuk panggung pertunjukan. Sedangkan Semmi, Kantini dan Sugiyanti yang dibebani dialog dan orasi panjang membawakan peran dengan lancar.
Panggung diset minimalis. Sedikit sekali properti yang digunakan. Berbeda sekali dengan keriuhan handprops dan kostum yang digunakan. Panggung yang luas terasa hampa dengan minimalisasi properti, di saat berbeda ada keramaian ikonl-ikon yang berdiam di handprops dan kostum. Kostum mencampur baurkan berbagai ikon budaya, simbol budaya dari lima benua. Tak ada kecanggungan untuk mencomot ikon-ikon budaya dari perbagai tradisi ke dalam satu panggung. Begitu pula dengan latar musik yang mengiringi pertunjukan. Lagu pop, lirik etnik, dan musik thriller ala Holywood berloncat silih berganti.
Dari lanskap panggung yang unik ini, boleh dikata Oyag Forum ingin membuat jarak antara pertunjukan teater dengan realitas kehidupan. Panggung ialah lokus suci bagi manusia rasional untuk merenungkan kehidupan sehari-hari. Panggung digunakan untuk memilah fakta, informasi sekaligus gosip yang selintas lewat melalui media massa; kemudian direkonstruksi dan ditafsir ulang. Tentu saja, demi menemukan pencerahan hidup.
Nama-nama tokoh dalam pertunjukan ini bukanlah merujuk pada tokoh-tokoh besar. Pemakaian nama Hamlet, Soekarno, Kartini, Himmler, Dayang Sumbi, Tumang dan Shakespeare bukan merujuk pada tokoh-tokoh lama, melainkan hanya menggunakan nama tersebut dengan makna baru. Sebuah upaya dekonstruksi citra yang berdiam dalam nama-nama besar. Pencitraan yang melekat pada nama-nama tersebut dicacah kecil-kecil, kemudian disusun kembali dalam bentuk kemasan citra baru. Itu sebabnya nama-nama yang digunakan dalam pertunjukan ini hanya nama-nama yang sudah dikonstruksi ulang dari renik-renik pencitraan yang sudah lama hadir. Oleh karena itu, jangan kecewa dengan nama-nama besar yang berseliweran dalam pertunjukan kurang lebih 2,5 jam ini. Ini berguna untuk merekonstruksi cara pikir penonton yang disusun oleh organisasi sekolah dan kampanye media.
Terapi untuk Penonton Santun
Pementasan ini tentu menonjok keras penonton yang santun. Gedung pertunjukan yang rapi, bersih, kursi empuk, dan nyaman disuguhi pementasan yang meneriakkan sumpah serapah atas seks dan kekerasan. Ironis memang. Yang menjadi permasalahannya ialah sejauh mana referensi penonton untuk memahami peristiwa di atas panggung? Penonton dan seniman tentu tak memiliki indeks yang sama ihwal tokoh-tokoh dan kisah yang dibawakan. Seniman berpikir dengan aku-nya, penonton pun menikmati dengan aku-nya pula. Sama-sama kesulitan menemui titik temu, belum ada koordinat yang menyamakan landasan awal untuk bertukar gagasan.
Oleh karena itu, pertunjukan teater ini tak memerhatikan apa yang diinginkan penonton. (Atau memang sedari awal tak mau tahu). Penonton digiring untuk mengikuti alur pikiran seniman. Jangan heran apabila kemudian penonton tak memeroleh kesegaran pikiran, melainkan hanya menemui ensiklopedi kecil ihwal tokoh dan berita. Dayang Sumbi memang hampir dikenal semua orang di Jawa Barat. Tapi bagaimana dengan Ophelia, atau Shakespeare, dan lainnya? Apakah penonton pernah mengerti tipe manusia dibalik nama-nama tersebut?
Boleh jadi, pementasan seperti ini berniat untuk memberikan kontemplasi bagi para penonton untuk memikirkan kembali tradisi kekerasan yang kita warisi terus-menerus. Dan pada ujungnya, mengikis kekerasan dari bangsa ini sedikit demi sedikit. Apakah terapi seperti ini akan berhasil? Entahlah. Yang jelas, kekerasan pikiran dan kekerasan fisik lebih terlihat gamblang ketika masa kampanye legislatif. Dimana kawan satu partai adalah lawan, dimana agama dibawa-bawa demi kepentingan kursi dewan legislatif, dimana bendera etnis dikibar sebagai bahan tawar-menawar politik. Kekerasan yang terjadi di luar panggung, serta berlangsung setiap hari, ternyata lebih brutal daripada apa yang dibayangkan. Kita sedang berhadapan dengan situasi ‘kelewat-demokrasi’ dan dicecar terus pengibar demokrasi ekstrem.
Vulgarnya pertunjukan Shakespeare Carnivora ini bertujuan untuk membuka seluas-luasnya luka sosial yang masih terbenam dalam benak orang Indonesia. Membuka trauma budaya ini pada akhirnya diharapkan dievalusi secara sungguh-sungguh, dan pada akhirnya memulai langkah baru wajah budaya Indonesia yang lebih ramah. Dalam konteks inilah, kontemplasi yang dilakukan Oyag Forum melalui pertunjukan Shakespeare Carnivora bisa dimaknai. Masa lalu dan masa kini dijadikan cermin untuk menapak Indonesia esok yang lebih baik.
Pernah ilmuwan Ilya Prigogine mengungkap gagasannya tentang alam semesta: Setiap kekacauan akan menghasilkan kemajuan, sebab kekacauan akan berusaha menemukan kesetimbangan semesta. Hal yang sama boleh jadi bisa diterapkan dalam kehidupan sosial Indonesia kini. Hal mirip juga diurai oleh sejarahwan Arnold Toynbee: bahwa setiap tantangan akan menghasilkan kemajuan pengetahuan dan kemajuan teknologi. Semoga pertunjukan Shakespeare Carnivora ini ditujukan untuk maksud tersebut. To be or not to be: Indonesia harus lebih baik!
ARAHMAN ALI, penonton pertunjukan. Aktif di Pendidikan Rakyat Madani dan JiwaTeater.com.



dani Says:
sip dah. reviewnya. kok tidak ada foto pertunjukannya
Posted on September 28th, 2009 at 10:56 am
dewa01api Says:
@Dani. foto sudah dimasukkan
Posted on September 30th, 2009 at 9:00 pm
dinda Says:
belum ada review baru? mohon untuk update terus berita teaternya
Posted on October 24th, 2009 at 1:19 am