Di penghujung tahun ini, kesenian di Banten kembali diramaikan dengan perhelatan festival monolog. Acara teater yang diadakan Nimus Institute tersebut menampilkan sembilan pementasan dari delapan komunitas yang tersebar di wilayah Banten, dan rencananya digelar selama lima hari, terhitung dari 19-23 Desember 2009.
Menurut Lee Birkin, selaku kepala program acara, festival tahun ini adalah event ketiga kalinya semenjak digelar pertama kali tahun 2007. Adapun tujuan festival ini adalah untuk membumikan salah satu cabang seni pemeranan, yakni monolog. Rupanya hal ini adalah sebuah tanggapan atas realita perteateran di Banten, yang saat ini banyak orang yang belum mengenal seni peran bersendiri tersebut. “Bahkan masih ada pekerja teater yang menganggap monolog itu sulit,” tutur Lee Birkin sambil mengernyitkan dahi.
Dengan mengusung tema ‘Manakala Sepi Berbicara’, pementasan-pementasan terebut akan dipusatkan di auditorium IAIN SMH Banten bekerjasama dengan Teater Kain Hitam Gesbica IAIN “SMH” Banten. Komunitas-komunitas yang terlibat adalah komunitas yang tumbuh dan berkembang di wilayah Banten seperti Teater Wajah, Teater Wanten, Teater Wong Kite, Komunitas Teaterawan Tangerang, Teater Lentera, Teater Kunci, Teater Tanah Liat dan Teater AnonimuS.
Hal yang menjadi fokus dalam festival monolog tahun ini adalah naskah. Pihak penyelenggara menekankan dalam pemilihan naskah yang akan dipentaskan harus baku (standar), semua peserta dibebaskan memilih dari puluhan naskah yang telah disediakan panitia.
“Ini dilakukan dalam upaya untuk menakar kualitas pemanggungan naskah, sekaligus sebagai barometer pencapaian estetika para peserta,” tukas Lee Birkin. Ditambahkannya pula bahwa festival monolog yang digelar adalah agenda tahunan dan ditargetkan ke depannya menjadi media ‘sertifikasi’ keaktoran dan penyutradaraan.
Saat ditanya soal ada tidaknya dukungan dari instansi pada penyelenggaraannya, Sekretaris Panitia, Ahmad Wahyuddin mengaku kegiatan mereka itu adalah hasil swadaya. Tidak ada instansi pemerintahan yang mendukung. “Maklum, kegiatan kami ini tidak menghasilkan PAD, kegiatan ini hanya sebuah investasi kebudayaan yang produknya adalah membentuk karakter bangsa” tambahnya. (LB)