10
March , 2010
Wednesday

JiwaTeater.com

Majulah Teater Indonesia

11 s.d. 13 Desember 2008 Teater Fataria STAIN Pamekasan Madura akan menyelenggarakan workshop keaktoran ...
Di penghujung tahun ini, kesenian di Banten kembali diramaikan dengan perhelatan festival monolog. Acara teater ...
Mengkambinghitamkan iblis dalam segala persoalan manusia mungkin telah membudaya dalam masyarakat Indonesia. Hal itu ...
"Apa kamu percaya kalau kamu tertawa tapi sebenarnya kamu menangis ..? tidak ..? ...

Archive for the ‘Teropong’ Category

Hardjono WS, Seniman Kreatif Itu Kini Tergolek Sakit

Posted by masjali On January - 3 - 2009 ADD COMMENTS

Hampir Seminggu di Rumah Sakit, Baru Ditangani Dokter Spesialis

Di sini tinggal orang-orang yang tak pernah tidur dan mengeluh

Karena putih matanya telah menjadi bianglala (Hardjono WS)

KHOIRUL INAYAH, Mojosari

—[ Kamis, 01 Januari 2009 ]

SEBAIT syair di atas nyaris tak terpisahkan dengan seniman yang tinggal di Desa Jatidukuh, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, Hardjono WS. Dan, ia benar-benar tidak mengeluh ketika kondisi tubuhnya drop pada Hari Natal lalu dan hingga kini tergolek lemas di RSUD Prof dr Soekandar Mojosari.

Saat koran ini bertandang ke RSUD bersama networker kebudayaan Abdul Malik kemarin siang, di ruangan tempatnya dirawat, hanya Marwiah Derang istrinya yang setia menunggu. Sesekali diusapnya rambut Hardjono yang sebagian besar telah memutih itu. ”Pa, ada tamu datang,” ujar Marwiah, ujarnya lembut sembari mengecup kening suaminya.

Dua mata yang semula terkatup itu berangsur membuka. Meskipun sudah mulai ada sedikit perubahan, namun tubuh Hardjono masih sangat lemah. Selang infus masih terhubung pada lengan kanannya. ”Apa kabar?” ujarnya dengan terbata ketika koran ini menyapa.

Bagi istrinya, ini sudah menjadi perkembangan yang berarti. Saat dibawa ke RSUD, 25 Desember lalu, tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan, matanya menatap kosong, dan tidak bisa berbicara. ”Biasanya setiap orang yang bertandang, Papa tidak mengenal sebelum saya kasih tahu. Tetapi, terhadap anda, papa langsung mengenalnya. Ini perkembangan yang bagus,” kata wanita asal Bugis tersebut.

Bagi Marwiah, tergoleknya Hardjono di RSUD ini membuyarkan rencana liburannya ke tanah asalnya Bugis yang sudah lama ia tinggalkan. Sebagai suami, Hardjono mengajak istrinya berlibur ke kampung halaman istrinya bersama Bintang anaknya. ”Papa bilang, Ma, nanti kalau novel saya dapat juara kita gunakan berlibur ke Bugis ya,” ujar Marwiah menirukan suaminya.

Namun, kondisi berkata lain. Tepat 25 Desember ia mendapati suaminya tergolek di depan televisi seusai bekerja di depan komputer. Sayangnya, pagi itu, ia belum juga sadar bahwa suaminya dalam kondisi pingsan. ”Pagi itu pukul 06.00 saya lihat papa tidur di depan TV, saya kira ya tidur biasa saja. Waktu saya bangunkan untuk sarapan pagi barulah saya sadar kondisi yang sebenarnya,’ ‘ kata Marwiah, yang segera membawa suaminya ke RSUD bersama Sukiyat.

Lalu, sakit apa Hardjono WS? Dikatakan istrinya, diduga Hardjono mengalami penyumbatan pada pembuluh darah otak kirinya. Ini yang menyebabkan syaraf motorik Hardjono tidak berfungsi. Sayangnya, diagnosa ini baru bisa ditegakkan kemarin lusa ketika spesialis syaraf datang dari Surabaya. ”Sebelumnya hampir seminggu ditangani dokter umum saja sehingga tidak diketahui penyebab pastinya,” ujar Mbak Wik, panggilan akrab Marwiah. Pihaknya juga sangat menyayangkan keterlambatan penanganan ini. ”Selama di sini, ya baru kemarin dikunjungi dokter spesialis syaraf,” katanya.

Sakit yang menimpa penulis naskah teater anak Layang-Layang ini cukup menyengat para seniman. Secara bergantian, seniman -tidak hanya dari Mojokerto–datang menjenguk. Belasan kawan-kawan dari komunitas seni menyempatkan diri berkunjung.

Antara lain, pengurus Dewan Kesenian Jawa Timur diwakili Syahlan Husein (sekretaris umum), Meimura (Bendahara), Koesen LD (Padepokan Bumi Pakarti Aji, Pacet), Cak Kadaruslan (Pusura Surabaya) dan istri, Sirikit Syah (Surabaya) dan suami, Harriyadie BS (Sidoarjo), perupa Mojokerto Alfie Fauzie, Nanang, Joni Ramlan, Hadi Sucipto, Samsul Hadi, Agus Widodo, Anik, Bung Gono, Irul, Affandi Abdul Hadi (Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto), Eko Edy Susanto (Ludruk Karya Budaya Mojokerto), Cak Supali, Heri Purwanto (caleg Partai Demokrasi Pembaruan Propinsi Jatim), Anang Timoer (Surabaya), M Arif (pekerja teater, Mojokerto), Ribut Sumiyono dan Nanang Moeni (pematung batu Trowulan), komunitas sastra pondok kopi Pacet Dadang Ari Murtono dan Samsul Arifin; sejumlah guru sebuah SMP di Gondang; Markus (pemijat, Mojokerto), Suliadi (penulis puisi, Mojokerto).

Meimura berharap agar Pemkab Mojokerto memperhatikan kondisi Hardjono WS. Sebab, sebagai putra daerah, Hardjono WS telah ikut serta mengharumkan nama daerah ini. Dia pernah mengharumkan nama Indonesia yang mendapatkan penghargaan dunia melalui Unesco bersama 14 pengarang Asia Pacifik mewakili penulis teater anak-anak. Ia satu-satunya pengarang dari Indonesia pada waktu itu. Dan sampai sekarang belum ada satu pun warga Mojokerto yang mendapatkan penghargaan yang sama.

Selain itu, tak terhitung lagi penghargaan baik tingkat regional maupun nasional yang didapatkan sosok yang lahir pada 11 maret 1945 ini. Antara lain, Lembaga Indonesia Amerika lewat Dewan Kesenian Jakarta berupa Award khusus teater, Juara I puisi Jatim versi Dewan Kesenian Surabaya, tiga naskah teater anak-anaknya jadi juara Jatim versi Dewan Kesenian Surabaya, tiga naskah teater anak anak juara nasional versi Dewan Kesenian Jakarta. Naskah televisi juara nasional versi TVRI Surabaya dan masih banyak lagi. (yr)

(Harian Jawa Pos)

Kehidupan Di Balik Panggung Rumentang Siang

Posted by jiwateater On December - 9 - 2008 ADD COMMENTS

FESTIVAL Drama Basa Sunda X, masih berlangsung di Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung. Di antara kesibukan para peserta dan panitia, tampak sesekali Udin Ganda, Moel Mge, Tjetje Raksa, Ndut, atau Tohari.

Mereka adalah sejumlah orang yang tak bisa dipisahkan dari bekas gedung bioskop Rivoli yang sejak 1975 diresmikan menjadi gedung kesenian itu. Dikatakan tak bisa dipisahkan, karena bersama sejumlah karyawan lainnya yang berjumlah 23 orang, mereka sehari-hari bekerja mengurusi GK. Rumentang Siang. Bagi mereka, Rumentang Siang lebih dari sekadar gedung. Tapi, ruang di mana mereka hidup dan bekerja untuk melayani berbagai keperluan berlangsungnya peristiwa kesenian. Dari mulai mengurusi program, memelihara perangkat gedung, sampai kebersihan.

Dengan kata lain, merekalah yang berada di balik panggung peristiwa kesenian yang ada di Rumentang Siang. Orang-orang yang selama ini, mungkin tak pernah menjadi perhatian di tengah riuh tepuk tangan penonton. Usai berbagai pertunjukan, gedung akan kembali lengang. Tinggal merekalah yang membersihkan kembali semuanya, mulai dari sampah hingga memeriksa kembali peralatan panggung. Lalu sebagai “pelayan” demi kebutuhan berbagai peristiwa kesenian di gedung kesenian itu, apa dan bagaimanakah sesungguhnya kehidupan mereka sendiri sebagai manusia biasa?

Read the rest of this entry »

Recent Comments

Jabat erat dari JiwaTeater.com. Situs ini dibangun sebagai media bersama teater Indonesia. Berniat untuk mengisi kekosongan media informasi pecinta teater. Untuk pengiriman materi berupa liputan pertunjukan, dokumentasi foto pertunjukan (baru maupun lama), esai seputar teater, tips atau panduan teknis, naskah drama dan lain-lain dapat dialamatkan ke salah satu dari alamat email berikut : masjali@yahoo.com, atau jogjateater@gmail.com, atau dewa01api@yahoo.com Pengelola Arahman Ali (Bandung) Ahmad Jalidu (Jogja)

Recent Comments

PIDATO BOSS PADA RUMAH DAN TETESAN

On Jan-15-2009
Reported by masjali

Wayang Lintang Johar di Solo

On Dec-27-2008
Reported by dewa01api

Kolaborasi Seniman Gelar Teater AIDS

On Dec-9-2008
Reported by jiwateater

Lelaki yang Terindah dan Nikmatnya Kopi

On Dec-21-2008
Reported by masjali