12
March , 2010
Friday

JiwaTeater.com

Majulah Teater Indonesia

Dalam dua dekade terakhir panggung teater Indonesia mengalami kemerosotan drastis dalam kuantitas pementasan bergaya realis, ...
Geliat teater di Banten disambut baik oleh TV lokal pertama di Banten, Banten TV, dengan ...
Karya ini berangkat dari keinginan untuk menjelajahi kemungkinan yang lain dari wayang, baik dalam hal ...
Mengkambinghitamkan iblis dalam segala persoalan manusia mungkin telah membudaya dalam masyarakat Indonesia. Hal itu ...

Archive for the ‘Review’ Category

‘Tikungan Iblis’ Teater Dinasti, Taman Ismail Marzuki Jakarta, 30 Desember 2008

Posted by masjali On January - 2 - 2009 ADD COMMENTS

Mengkambinghitamkan iblis dalam segala persoalan manusia mungkin telah membudaya dalam masyarakat Indonesia. Hal itu mendorong “iblis” membela diri lewat Pentas Teater Dana Informasi Nasional Taruna Indonesia (Dinasti) asuhan Emha Ainun Najib di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, 30 Desember 2008. Pentas ini bertajuk Tikungan Iblis.

Tikungan Iblis mengisahkan tentang sifat iblis yang perlahan tapi pasti menular ke manusia. Penokohan iblis dalam pergelaran ini amat rakus dan berkuasa. Sang iblis selalu tertawa setiap kali manusia bersedia mengikuti keinginannya.

Alur cerita dimulai dari kisah eksistensi manusia sejak awal penciptaan hingga berkembang biak dan membangun peradaban. Pertunjukkan kian meruncing saat Iblis berhasil membuktikan ketidakmampuan manusia menjadi khalifah atau pemimpin. Manusia seringkali kesulitan memilih jalan yang baik dan bernilai dalam hidup.

Kehadiran Novia Kolopaking, artis dan penyanyi, memberi suasana baru dalam pementasan ini. Novia memerankan Siti Majenuna, perempuan kiriman iblis yang menyuarakan nilai-nilai filosofi.

Teater Dinasti asuhan Cak Nun, sapaan akrab Emha Ainun Najib, telah mementaskan Tikungan Iblis di Yogyakarta serta Surabaya, beberapa waktu lalu. Harto, penggagas Tikungan Iblis mengatakan, pertunjukan ini menjadi alternatif tontonan yang sehat dan punya makna budaya bagi penontonya.

Noe, vokalis grup band Letto sekaligus putra Cak Nun dan kontributor gagasan Tikungan Iblis, mengatakan, ide cerita berawal dari ketertarikan akan sejarah, terutama iblis. Menurut Noe, iblis di Arab dan di Jawa memiliki nama yang hampir sama yakni Azazil dan Izazil. Fakta tersebut terus digali Noe dan sang ayah. Mereka bahkan harus riset hingga ke Belanda.

Reset dimulai dengan memahami lagu-lagu kuno. Selanjutnya, Noe dan Cak Nun menterjemahkan sudut pandang iblis dari buku abad ke-12. Pencarian buku dilakoni hingga ke Belanda. “Buku-buku tersebut jumlahnya banyak tapi tak mudah dicari,” kata Noe kepada reporter Bayu Sutiono dalam Dialog Liputan 6 Pagi, Senin (29/12).

Toto, kontributor lainnya, mengatakan, benang merah Tikungan Iblis ada tiga hal yaitu Iblis, Garuda, dan kualitas manusia Indonesia seiring perkembangan zaman. Menurut Toto, manusia ibarat sebuah telepon genggam yang hanya tinggal casing-nya. Jika dulu manusia adalah burung Garuda, kini hanya burung Emprit alias burung kecil.

Menurut Toto, Tikungan Iblis ingin menghadirkan informasi tentang kemanusiaan dan masalah-masalahnya sesuai dengan misi dan visi Teater Dinasti. Noe sependapat dengan Toto. Ia berharap penonton bisa menyimpulkan siapa dan apa iblis sesungguhnya di kehidupan nyata. “Kadang manusia lebih iblis daripada iblis,” kata Noe.(ika/Tim Liputan 6 SCTV)

TIM ARTISTIK

Penulis Naskah Emha Ainun Nadjib, Tim Sutradara Jujuk Prabowo, Fajar Suharno.Kontributor Gagasan Emha Ainun Nadjib, Indra Tranggono, Simon Hate, Toto Rahardjo, Fauzie Ridjal. Penata Musik Bobiet Santos.
Art Director/Multimedia Pang Warman.Penata Cahaya Wardono. Stage Manager Eko Nuryono

Para Pemeran Joko Kamto (Smarabhumi/Ibllis), Novia Kolopaking (Siti Majnunah/Lazerta), Bagus Jeha (Saklah), Novi Budianto (Prawito), Setheng (Prawikun), Chithut DH (Prawijo), Kumbo  Makumbo (Prawidi), Joko Kusnun (Prawikus), Fajar Suharno (Maula Hajarala), Bambang Sosiawan (Maula Hasarapala), Tertib Suratmo (Maula Jabarala), Jujuk Prabowo (Khabil), Jijit (Qabil), Jemek Supardi (Tapel), Agung Gareng (Tapel), Toro Marhen (Tapel), Irfan (Tapel), Rina (Tapel), Delvi (Tapel), Delina (Tapel), Riska (Tapel), Ve (Tapel), Shelly (Tapel), Ratri (Tapel). Pemain Anak-anak : Hayya, Jembar, Dimas, Tido, Lintang, Krisna

Para Pemusik Joko SP, Yoyok, Pak Is, Giyanto, Ardani, Bayu, Imam, Ari Blothong, Bobiet, Jijit

TIM PRODUKSI Pimpinan Produksi Ahmad Syakurun Muzakki, Manajer Produksi Eko Nuryono Bendahara,  Urusan Transpotasi Muh Zaenuri,  Urusan Perlengkapan Godor Widodo, Rahmat Mulyono, Urusan Dokumentasi Adien, Urusan Kostum-Make Up Mbak Roh, Urusan Umum Agus Santoso

Wayang Getuck “SHINTA OBONG” : Kritik sosial berselimut cerita wayang.

Posted by masjali On December - 21 - 2008 ADD COMMENTS

Komunitas Sosial Teaterikal Magelang menggelar pertunjukan Wayang Getuck “Shinta Obong” di halaman SMK YP 17 Magelang sabtu 20 Desember pukul 20.00 WIB. Pertunjukan yang didukung oleh Environmental Service Program ini melibatkan berbagai komunitas teater di Magelang yang bergabung dalam bendera komunitas Sosial Teaterikal. Sinta Obong, cerita yang diangkat dari cerita wayang Ramayana ini sudah dipelintir sedemikian rupa oleh sang sutradara, Gepeng Nugroho.

Bagian 1

Pertunjukan dibuka dengan devile seluruh aktor dan penari memasuki panggung dengan diiringi tabuhan dari Rupadatu Percution. Lalu adegan dimulai. Seorang Dalang, diperankan Gepeng Nugroho, di panggung bagian tengah, memainkan wayang golek yang terbuat dari getuk, makanan khas magelang. Di belakang sang Dalang, terbantang kelir putih seperti layaknya pertunjukan wayang konvensional. Namun Dalang tidak bermain di depan kelir seperti wayang kulit, ia justru seperti seorang pemain boneka yang memainkan boneka sambil bergerak kesana kemari. Dalang memainkan perdebatan Rama yang menyangsikan kesucian Shinta setelah sekian lama hidup di dalam sekapan Rahwana. Ditengah asyiknya Dalang memainkan wayang Rama dan Shinta, tiba-tiba muncul dua aktor bertopeng ke tengah panggung, Rama, diperankan Dhimas Setyo dan Shinta diperankan Poppy Savitri. Mereka melanjutkan perdebatan dan berakhir dengan Adegan Shinta terjun ke tengah 4 penari yang malambangkan api untuk membakar diri sebagai sumpah bukti kesucian. Sebelum menerjunkan diri ke tengah api, Shinta sempat melepas topeng. Barangkali, sutradara ingin mempertunjukkan bahwa Shinta telah melepaskan segala gengsi dan kepura-puraan etis seorang istri raja, menjadi dirinya sendiri dengan memutuskan melakukan sumpah obong.

Bagian 2

Selanjutnya tiba-tiba dalang maju dan berbicara kepada penonton, seperti dalam pertunjukan teater tradisi semacam Lenong, Ludruk dan dagelan Mataraman. Dalang mencoba memancing penonton untuk merenung mendiskusikan apa yang terjadi pada Rama dan Shinta. Menurut sang Dalang, Shinta adalah korban ketidakadilan kodrati, di mana wanita tidak perawan lebih bisa dibuktikan daripada pria tidak perjaka. Dan selalu saja para pria menuntut istrinya masih perawan.

Adegan ini segera dipotong kemunculan Rahwana, diperankan Budiyono didampingi Shinta yang telah menjadi istrinya. Mereka membicarakan tentang kekayaan dan berbagai kebijakan Rahwana sebagai pimpinan Negara yang lalim, namun Shinta mengiyakan saja. Meski Shinta sadar kekeliruan Rahwana, namun karena itu mendukung penampilan dan kesejahteraannya, maka Shinta tetap menyetujui ulah suaminya itu.

Di bagian ini lalu terjadi dialog Rahwana dengan Dalang. Rahwana memprotes dalang yang selalu menyudutkannya, menyebutnya sebagai penjahat dan penrusak alam. Namun, berkat kepiawaian dalang, akhirnya Rahwana menyetujui untuk tetap menjalankan perannya sesuai kehendak sang Dalang.

Berikutnya muncul Laksmana, diperankan Andre. Dalang mempengaruhi Laksmana untuk mengandalkan ketampanannya dan merebut hati Shinta. Meski awalnya Laksmana menolak atas dasar kesetiaanya kepada Rama, kakak kandungnya, namun akhirnya Laksmana terpengaruh hasutan Dalang, iapun segera berangkat menemui Sinta dan menjalankan berbagai model rayuan yang akhirnya berhasil. Shinta meninggalkan Rahwana dan pergi bersama Laksmana.

Bagian 3

Dalang mengantarkan penonton memasuki cerita di tempat lain, yaitu di negeri Kethek (kera). Digambarkan, para kera mengalami penderitaan karena rusaknya hutan yang berakibat kelangkaan sumber air. Anuman, sebagai pimpinan para kera menyerah dan merasa tidak mampu mengatasi masalah. Kembali dalang berperan sebagai penghasut yang membuat Anuman berani bertindak dan memimpin demo memprotes pemerintahan Rahwana yang telah merusak alam mereka.

Rahwana yang sedang linglung karena ditinggal Shinta, tidak mampu berbuat apa-apa dan memerintahkan Kumbakarna, adiknya untuk mengatasi keadaan. Kumbakarna yang dari kostumnya terkesan dari kalangan militer justru tidak tertarik mengatasi demo karena lebih tertarik mengawasi dan mengendalikan pasar modal yang juga sedang terguncang krisis ekonomi global. Merasa perintahnya tidak diindahkan, Rahwana murka dan terjadi perkelahian sengit yang berakhir dengan kekalahan Rahwana.

Pada adegan ini Kumbakarna, Dalang dan seluruh aktor kera serentak bersorak mengucapkan “Eforia!! Kebebasan.. Eforia.. Kebebasan…”

Bagian 4

Adegan menjuju akhir. Rama yang tak lelah berkeliling dunia mencari Shinta akhirnya bertemu Shinta dan Laksmana. Namun Laksmana tidak bersedia memberikan Shinta, merekapun berperang dan dimenangkan oleh Rama.

Setelah melalui pengantar Dalang, Adegan kembali seperti adegan pembuka, Rama dan Shinta. Di sini Rama menyatakan percaya kepada sumpah Sinta, merekapun bersepakat untuk memulai kembali hidup berkeluarga yang penuh cinta dan komitmen untuk saling mendukung… pertunjukan ditutup.

Secara umum, pertunjukan ini menghibur dan membuat banyak penonton menunjukkan wajah-wajah puas. Peragaan wayang golek oleh dalang, adegan tokoh langsung dan adegan siluet di balik kelir, dan para penari disusun bergantian dan menarik. Namun, terdapat beberapa catatan yang penting dari pertunjukan ini: Satu, pertunjukan ini sarat dengan kritik sosial dan politik terutama mengenai masalah-malasah lingkungan yang terjadi di masyarakat setempat (Magelang) seperti krisis air bersih, perusakan hutan dan pengelolaan alam yang tidak ramah lingkungan. Dengan gaya sampakan dan penuh imroviasasi, pertunjukan ini menjadi sangat vocal dan “cerewet” membongkar kebobrokan pemerintah. Meski begitu tetap tidak membosankan karena banyaknya lelucon yang muncul dari semua aktor.

Dua, musik perkusi yang mengiringi pertunjukan ini sebenarnya cukup menarik dan asyik di telinga, namun sayangnya, volume yang meninggi pada adegan-adegan tertentu sering membuat dialog tidak terdengar karena tertutup suara musik. Juga terkesan tidak ada bagian klimaks yang paling tingi, yang ada hanya beberapa puncak-puncak ketegangan yang sama  dengan pola tabuhan yang sama setiap kali terdapat puncak ketegangan.

Tiga, Kostum terkesan tidak tertata. Rama, Shinta, Laksmana, dan Hanuman menggunakan kostum keseharian tetapi memakai mahkota versi pewayangan dan topeng kertas, meski pada beberapa adegan topeng dilepas dengan motif yang berbeda tiap-tiap tokoh. Sementara Rahwana menggunakan kostum wayang lengkap dan Kumbakarna berkostum perwira militer berwarna putih lengkap dengan serempang pistol yang diganti sebilah pedang kayu. Meski bergaya komedi sampakan, namun kacaunya kostum ini terasa tidak mendukung, justru di bagian tertentu membingungkan penonton ketika ingin mengidentifikasi tokoh.

Dari tiga catatan ini, bartangkali bisa disimpulkan, bahwa Gepeng Nugroho tidak sedang mempertunjukan sebuah teater sebagai semata suguhan cerita fiksi yang mengilusi, tetapi ia sedang menyuguhkan suatu kumpulan fragmen kasus social masyarakat yang disampaikan melaui penciptaan adegan berselimut petikan cerita Ramayana. Jika benar ia sedang mementingkan penyampaian kritik sosial, maka ia telah meyelesaikan tugasnya, tetapi jika Gepeng sedang berusaha menciptakan pertunjukan teater dengan segenap tuntutan artistik, sepertinya ada beberapa hal yang tertinggal.

M. Ahmad Jalidu. Peminat seni pertunjukan. Tinggal di Yogyakarta

Lelaki yang Terindah dan Nikmatnya Kopi

Posted by masjali On December - 21 - 2008 ADD COMMENTS

Pukul delapan tepat. Seorang pemuda dengan postur terbilang kecil, menenteng sebuah gitar berjalan tenang menuju panggung kecil di salah satu sudut Djambur Coffee, Karang Asem Baru Catur Tunggal. Beberapa saat kemuadian ia mulai menyanyi ditemai petikan gitar berirama blouse dan lalu mulai berbicara. Dia menceritakan diri sebagai seorang aktor yang jatuh cinta pada seorang lelaki kapster sebuah salon di Jakarta. Logat bicaranya yang cedal dan suaranya yang cenderung lembut untuk ukuran lelaki membuat pengunjung café itu serius mendengarkan sang aktor.

Demikianlah, selama hamper I jam, Alex Suhendra mempertunjukkan kemampuan aktingnya yang tenang dalam pertunjukan monolog berjudul Lelaki yang Terindah. Acara yang diprakarsai Gargut Entertainus ini berlangsung di Djambur Coffee, Karang Asem Baru, Catur Tunggal selama dua malam yaitu 18 dan 19 Desember lalu.

Monolog ini diadaptasi dari cerpen berjudul sama karya Seno Gumira Ajidarma, menceritakan keluh kesah seorang gay yang pernah mencintai wanita, lalu menemukan sang pria terindah yang membuatnya jatuh cinta dan akhirnya ia tinggalkan kembali setalah sang lelaki terindah ini mengajak menikah.

Alex Suhendra yang seorang alumni program belajar akting Actor Studia Teater Garasi ini benar-benar menunjukkan kualitasnya hanya dengan pertunjukan yang sangat simple. Panggung tabpa set, ia hanya ditemai sebuah gitar, sebuah microphone dan sebuah sound amplifier untuk gitarnya. Ia memang oernah mementaskan naskah ini pada tahu 2007 di Museum Benteng Vredeburg, namun yang istimewa kali ini adalah tenpat pertunjukannya yang sangat pas dengan konsep yang ia pilih. Lelaki yang terindah dikemas layaknya one man play atau one stand comedy yang sering dijumpai di café-café di Amerika Eropa. Lelaki yang Terindah meluncur di tengah-tengah kafe di mana para waiters berseliweran dan sesekali terdengar denting sendok beradu piring juga gemuruh juicer menyela pertunjukan. Meski tidak didukung gempita penonton yang berlebihan, tetapi nampak bahwa nikmatnya kopi di meja Djambur Coffee malam itu, serasa lebih lengkap dengan hadirnya Alex dan Lelaki yang Terindah-nya

M. Ahmad Jalidu. Peminat Seni Pertunjukan, tinggal di Yogyakarta.

Dalam Sebuah Perjalanan: Teater Boneka Miskin Kata Kaya Makna

Posted by masjali On December - 10 - 2008 ADD COMMENTS

Bayangkan, apa yang terjadi jika seorang pemuda patah hati, seorang ibu muda yang hamil tua dan memiliki seekor anjing kesayangan, sepasang suami istri, pengamen, pengemis, pencuri yang menyamar, dan beberapa tokoh lainnya bertemu dalam sebuah gerbong kereta yang sama, menuju kota tujuan yang sama.

Di tangan Papermoon Puppet Theatre kemarin malam (4/12), dari situasi yang nampaknya biasa tersebut, ternyata dapat dimunculkan cerita yang menarik dan –sesuai dengan apa yang dituliskan pada poster publikasi pertunjukkan mereka– mengantarkan penonton semua untuk menikmati perubahan dalam kehidupan, serta membawa perubahan besar dalam kehidupan di masa mendatang, melalui pementasan yang berjudul Dalam Sebuah Perjalanan (On A Journey).

Sebelum pertunjukkan ini dimulai pukul 20:00 WIB, beberapa boneka berkeliaran dan berinteraksi dengan penonton, ada yang seperti pedagang asongan, ada yang aparat keamanan berkuda, bahkan ada yang pengemis yang meminta-minta pada penonton dan sempat membuat seorang anak kecil yang duduk di bangku depan menangis, mungkin karena terkejut melihat penampakan boneka seukuran yang mendadak muncul di depannya.

Pada awal pertunjukkan yang berdurasi satu jam ini, ada sedikit rasa yang mengganjal melihat aktor yang berada di balik boneka nampak jelas, sehingga muncul kekhawatiran bahwa penonton tidak dapat dengan nyaman melihat boneka yang sedang berakting, tanpa terganggu oleh kenyataan bahwa di balik boneka tersebut ada manusia yang menggerakkannya.

Tapi seiring dengan berjalannya pertunjukkan dan mengalirnya cerita, kekhawatiran tersebut sirna karena alih-alih terlihatnya aktor yang ada di balik beberapa boneka tersebut menjadi semacam distraksi bagi penonton, ternyata hal tersebut malah semakin mendekatkan penonton dengan cerita dan dengan para boneka yang menjadi tokoh di dalam cerita itu.

Ini dapat dirasakan ketika munculnya boneka sepasang suami istri yang muncul dari pintu kiri di deretan kursi penonton, dan menggoda beberapa anak-anak kecil selama dalam perjalanan mereka menuju panggung, nampak bentuk interaksi yang unik antara penonton, boneka, dan aktor yang ada di belakang boneka. Demikian juga pada adegan ketika para boneka itu menari dalam rangka mencari orang yang melakukan pencurian di atas kereta, serta pada adegan ibu muda yang sedang hamil sedang melakukan pengaturan napas karena saat hari kelahiran telah tiba.

Hal lain yang menarik dalam pertunjukkan yang berdurasi satu jam ini adalah, walaupun terdapat dialog seperti pada  teater lain pada umumnya, namun bisa dikatakan pertunjukkan kali ini miskin kata-kata. Sehingga selama pertunjukkan dialog yang terdengar dari mulut para aktor hanyalah suara-suara gumaman yang tidak jelas.

Walaupun demikian, sebagai sebuah pertunjukkan, teater boneka kali ini tetap dapat dengan mudah dinikmati dan ditangkap pesan yang ingin disampaikan melalui boneka-boneka tersebut, sejak awal hingga akhir pertunjukkan, tiap adegan demi adegan. Nampaknya para penggagas pertunjukkan kali ini benar-benar ingin membuktikan bahwa boneka dapat dijadikan media untuk bercerita dan berekspresi.

Pertunjukkan teater boneka yang merupakan kerjasama empat negara ini yaitu Indonesia, Australia, Mexico, dan Perancis ini merupakan bagian terakhir dari rangkaian kegiatan Pesta Boneka, yang terdiri atas beberapa pertunjukkan berjudul Hanya Menunggu dipentaskan pada 17 Juli 2008 di KINOKI, Yu Brejel dan Eyang Dipo pada 18 Agustus 2008 di Padepokan Bagong Kussudiardja, dan Ya Nos Morimos (Kita Sudah Meninggal) dipentaskan 7 November 2008 di Galeri Lembaga Indonesia Perancis.

Adapun bagian penutup dari Pesta Boneka, yaitu Dalam Sebuah Perjalanan (On A Journey) yang dipentaskan ini, ide naskahnya dikerjakan oleh Maria Tri Sulistyani (Indonesia), Daniele Poidomani (Australia), Carla Pedroza (Mexico), dan Carla Ori (Australia), direncanakan akan berlangsung tiga hari mulai tanggal 3 hingga 5 Desember 2008 di Societet Taman Budaya Yogyakarta.

Sumber: http://gudeg. net/news/ 2008/12/4196/ Dalam-Sebuah- Perjalanan- Teater-Boneka- Miskin-Kata- Kaya-Makna. html

Recent Comments

Jabat erat dari JiwaTeater.com. Situs ini dibangun sebagai media bersama teater Indonesia. Berniat untuk mengisi kekosongan media informasi pecinta teater. Untuk pengiriman materi berupa liputan pertunjukan, dokumentasi foto pertunjukan (baru maupun lama), esai seputar teater, tips atau panduan teknis, naskah drama dan lain-lain dapat dialamatkan ke salah satu dari alamat email berikut : masjali@yahoo.com, atau jogjateater@gmail.com, atau dewa01api@yahoo.com Pengelola Arahman Ali (Bandung) Ahmad Jalidu (Jogja)

Recent Comments

Senandung Panggung STB

On Dec-9-2008
Reported by jiwateater

Teguh Karya: Suhu Teater Indonesia

On Dec-9-2008
Reported by jiwateater

Lelaki yang Terindah dan Nikmatnya Kopi

On Dec-21-2008
Reported by masjali

Monolog Tegalan “Krosi” Eko Tunas

On Dec-17-2008
Reported by dewa01api