10
September , 2010
Friday

JiwaTeater.com

Majulah Teater Indonesia

Komunitas Sosial Teaterikal Magelang menggelar pertunjukan Wayang Getuck "Shinta Obong" di halaman SMK ...
Studiklub Teater Bandung (STB) akan menerima penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai kelompok teater ...
"Petra Little Theatre" yang merupakan kelompok teater mahasiswa Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya menggandeng "Euphoria ...
Dalam dua dekade terakhir panggung teater Indonesia mengalami kemerosotan drastis dalam kuantitas pementasan bergaya realis, ...

ACTORS BROTHERHOOD : Unjuk Gigi Aktor Muda Teater Jogja

Posted by masjali On February - 1 - 2009 3 COMMENTS

Jumat malam 30 Januari lalu, di tengah lebatnya hujan yang mengguyur Jogja, sekumpulan orang tampak riang dan sesekali terdiam serius di Djambur Coffee, Karang Asem Baru, Catur Tunggal, Depok, Sleman. Malam itu, secara bergantian 6 Aktor teater unjuk gigi dengan berbagai gaya dalam solo performance sepanjang 10-20 menit untuk masing-masing aktor. Keenam Aktor tersebut adalah Hindra Setyarini (Teater Garasi Yogyakarta), Otho Sebastian (Teater Toedjoeh Yogyakarta), Ilyas Aru Weda (aktor freelance Yogyakarta), Dimas Setyo (Teater Fajar Magelang), Gepeng Nugroho (Sosial Teaterikal Magelang) dan Soiman (Komunitas Teater Purworejo).

Meski hujan lebat sejak sore hari, namun beberapa pegiat teater tetap antusias mengapresiasi pertunjukan enam aktor tersebut. Di antara penonton hadir juga Jamaludin Latif (Aktor Teater Garasi), Maria Tri Sulistiyani (Pappermoon Puppet Theatre), Andre Tikus (Studio Teater P4TK) dan aktor-aktor dari teater kampus seperti Sekrup, Unstrat, TGM dan lain-lain. Acara berjudul Actors Brotherhood ini diprakarasai oleh Gargut Entertainus, sebuah tim pegiat seni kreatif yang beberapa bulan terakhir aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan baik pertunjukan teater, pemutaran film, maupun diskusi seni dan film indie di Djambur Coffee.

M Ahmad Jalidu, coordinator acara sekaligus MC malam itu menyatakan bahwa sebenarnya Gargut mengundang tujuh Aktor, tetapi Alex Suhendra berhalangan datang karena sakit. “Actors Brotherhood sesuai dengan judul acaranya memang bertujuan menjalin keakraban yang lebih dekat di antara para aktor teater dengan mendorong suasana dialog baik dialog karya maupun dialog dalam arti sebenarnya” Lanjutnya.

Dimas Setyo yang membawakan monoplay Demokrasi karya Putu Wijaya berhasil tampil dengan bagus, tentu saja didukung oleh kontekstualitas naskah yang dibawakan, apalagi Dimas membuka pertunjukannya dengan mengajak penonton menyanyikan lagu Menuju Pemililah Umum yang dulu sering terdengar di radio dan telavisi menjelang hari-hari pemilu. Sementara Hindra Setyarini yang tampil pertama juga mempertunjukkan sesuatu yang segar. Hindra mengajak semua penonton berdiri dan ia tampil dengan gaun pengantin lalu membacakan janji pernikahan dan kemudian menyanyikan lagu ciptaanya sendiri berjudul wedding song. Lain lagi dengan Gepeng Nugroho yang memberi judul karyanya Mamamia, ia mengkombinasikan antara Akting dan Klip puisi. Ia telah mempersiapkan sebuah video klip pembacaan puisi yang dimainkan di layar belakang panggung dan ia pun mulai bercerita tentang intisari cinta, pernikahan dan keluarga.

sumber : http://jogjateater.multiply.com

Lelaki yang Terindah dan Nikmatnya Kopi

Posted by masjali On December - 21 - 2008 ADD COMMENTS

Pukul delapan tepat. Seorang pemuda dengan postur terbilang kecil, menenteng sebuah gitar berjalan tenang menuju panggung kecil di salah satu sudut Djambur Coffee, Karang Asem Baru Catur Tunggal. Beberapa saat kemuadian ia mulai menyanyi ditemai petikan gitar berirama blouse dan lalu mulai berbicara. Dia menceritakan diri sebagai seorang aktor yang jatuh cinta pada seorang lelaki kapster sebuah salon di Jakarta. Logat bicaranya yang cedal dan suaranya yang cenderung lembut untuk ukuran lelaki membuat pengunjung café itu serius mendengarkan sang aktor.

Demikianlah, selama hamper I jam, Alex Suhendra mempertunjukkan kemampuan aktingnya yang tenang dalam pertunjukan monolog berjudul Lelaki yang Terindah. Acara yang diprakarsai Gargut Entertainus ini berlangsung di Djambur Coffee, Karang Asem Baru, Catur Tunggal selama dua malam yaitu 18 dan 19 Desember lalu.

Monolog ini diadaptasi dari cerpen berjudul sama karya Seno Gumira Ajidarma, menceritakan keluh kesah seorang gay yang pernah mencintai wanita, lalu menemukan sang pria terindah yang membuatnya jatuh cinta dan akhirnya ia tinggalkan kembali setalah sang lelaki terindah ini mengajak menikah.

Alex Suhendra yang seorang alumni program belajar akting Actor Studia Teater Garasi ini benar-benar menunjukkan kualitasnya hanya dengan pertunjukan yang sangat simple. Panggung tabpa set, ia hanya ditemai sebuah gitar, sebuah microphone dan sebuah sound amplifier untuk gitarnya. Ia memang oernah mementaskan naskah ini pada tahu 2007 di Museum Benteng Vredeburg, namun yang istimewa kali ini adalah tenpat pertunjukannya yang sangat pas dengan konsep yang ia pilih. Lelaki yang terindah dikemas layaknya one man play atau one stand comedy yang sering dijumpai di café-café di Amerika Eropa. Lelaki yang Terindah meluncur di tengah-tengah kafe di mana para waiters berseliweran dan sesekali terdengar denting sendok beradu piring juga gemuruh juicer menyela pertunjukan. Meski tidak didukung gempita penonton yang berlebihan, tetapi nampak bahwa nikmatnya kopi di meja Djambur Coffee malam itu, serasa lebih lengkap dengan hadirnya Alex dan Lelaki yang Terindah-nya

M. Ahmad Jalidu. Peminat Seni Pertunjukan, tinggal di Yogyakarta.

Joko Kamto : Aktor Teater Yang Anggun Aktingnya

Posted by masjali On December - 10 - 2008 ADD COMMENTS

Joko Kamto dan Novi Budiyanto

Joko Kamto dan Novi Budiyanto

Read the rest of this entry »

Akting dan Eksteriorisasi Ketertindasan

Posted by jiwateater On December - 10 - 2008 ADD COMMENTS

Ketertindasan bukan melulu beban dan keterpenjaraan. Ketertindasan juga bisa direproduksi sebagai ruang adaptif untuk bertahan. Kiat seperti itu dapat disalurkan lewat jenis kreasi performatif di atas panggung maupun dalam bentuk ’akting formal’ di ruang publik. Ketertindasan epistemik dan politik dapat tampil melalui bentuk artistik. Manifestasi artistik dari ketertindasan dapat menjalankan dua fungsi. Pertama, sebagai bentuk pemuasan substitutif terhadap ketertindasan aktual. Teater rakyat, seperti ludruk, di masa kolonialisasi dan transisi proklamasi, menonjolkan elemen bahasa lokal untuk menyampaikan negasi dan pembalikan epistemik terhadap status hierarkis majikan-jongos. Ini merupakan penyandian dan sindiran terhadap status kemajikanan penguasa kolonial, sekaligus sebagai pemuasan substitutif bagi ketertindasan aktual penduduk lokal yang belum bisa diatasinya. Fungsi kedua merupakan estetisasi terhadap trauma kultural. Jalan ini diambil oleh golongan aristokrat lokal lewat modus adopsi dan peningratan simbol-simbol kolonial, yang disebut oleh Denys Lombard (Nusa Jawa: Silang Budaya, hal 108) sebagai ’pembaratan busana’ seraya menunjukkan potret Sultan HB VIII dalam seragam militer. Di satu pihak digunakan jas yang ketat, kaus kaki dan celana, serta lencana (khas kolonial), di lain pihak, penutup kepala, kain motif parang rusak, keris, dan peralatan menyirih (khas lokal). ’Akting formal’ ini merupakan pengendalian dan pendamaian artistik, untuk menghindari persaingan epistemik terbuka dengan kekuasaan kolonialnya.

Dalam teater modern, generasi Asrul Sani mengadopsi realisme Stanislavskian. Akting adalah upaya ’menjadi’, dengan konsep ’magic if’: aktor menampilkan kebenaran akting karena dia percaya mampu ’menjadi seseorang’; mewujudkan sosok utuh yang baru. Generasi Asrul menghendaki sosok utuh manusia pasca-proklamasi, untuk mewujudkan realitas individuasi yang belum dimiliki. Visi itu punya prospek karena menguatnya nasionalisme dalam integrasi keindonesiaan. Tapi pencarian ke Barat adalah jalan menghampiri ketertindasan. Pembaratan metode akting untuk program ’teater nasional’, yang kontradiktif secara idiil, adalah bentuk pemuasan akademis untuk dapat ikut serta dalam arus pemodernan teater Eropa. Namun hal itu ditempuh dengan meminimalkan pertalian substantif dengan tradisi teater pribumi.

Read the rest of this entry »

Recent Comments

Jabat erat dari JiwaTeater.com. Situs ini dibangun sebagai media bersama teater Indonesia. Berniat untuk mengisi kekosongan media informasi pecinta teater. Untuk pengiriman materi berupa liputan pertunjukan, dokumentasi foto pertunjukan (baru maupun lama), esai seputar teater, tips atau panduan teknis, naskah drama dan lain-lain dapat dialamatkan ke salah satu dari alamat email berikut : masjali@yahoo.com, atau jogjateater@gmail.com, atau dewa01api@yahoo.com Pengelola Arahman Ali (Bandung) Ahmad Jalidu (Jogja)

Recent Comments

Lelaki yang Terindah dan Nikmatnya Kopi

On Dec-21-2008
Reported by masjali

Teater Ajarkan Nasionalisme

On Jun-20-2010
Reported by dewa01api

“Festival Topeng” Teater Lawas

On Jun-20-2010
Reported by dewa01api

PIDATO BOSS PADA RUMAH DAN TETESAN

On Jan-15-2009
Reported by masjali