6
September , 2010
Monday

JiwaTeater.com

Majulah Teater Indonesia

Oleh Edy Suyanto ”Perkembangan teater saat ini adalah perkembangan teater post-Stanislavsky. Setelah Stanislavsky, tumbuh teater baru ...
Federasi Teater Indonesia (FTI) kembali menyelenggarakan perayaan teater Indonesia, pada 27 Desember 2009, dari pukul ...
KOTABARU (3 Desember 2008),-  Memperingati Hari AIDS Sedunia, Seniman Kotabaru berkolaborasi dengan beberapa seniman dari ...
Eko Tunas akan menyuguhkan monolog bertajuk Krosi di tiga kota. Pentas dengan bahasa Tegalan itu ...

PIDATO BOSS PADA RUMAH DAN TETESAN

Posted by masjali On January - 15 - 2009 ADD COMMENTS

“Apa kamu percaya kalau kamu tertawa tapi sebenarnya kamu menangis ..? tidak ..? kalau begitu kamu bahagia. Tidak seperti kami, tidak seperti robot ini, bangkai ini, badut besar ini..! kami harus tetap yakin dan setia meskipun tahu semua ini salah. Kamu dengar ..? kami bahkan tidak punya hak untuk merasa berdosa , itu tabu ..!!. sebagaimana semua sistim, ini adalah pembunuhan diri, tapi kami tidak berhak mati , kami harus hidup, karena kami harus menang.

” Sebuah petikan naskah Boss karya Putu wijaya”

Riang sorak ramai ketika itu , langit mulai menggumpal dengan awan hitam ” tak terasa hari telah menginjak malam! Sebuah sanggar teater  yang sederhana telah melakukan aktivitas (latihan) ketika itu, sebuah proses running tiga naskah monolog yang disutradarai oleh Bagus Mahayasa mewarnai suasana di Jl. Benteng Pancasila 62 Kota Mojokerto  setiap hari.

Tiga naskah monolog ini dimainkan oleh tiga orang aktor masing-masing Mach. Novianto dalam naskah “Boss” karya Putu Wijaya, pendiri teater Mandiri Jakarta. Naskah Boss ini ditulis dan dihadiahkan untuk almarhum Alimin Lasasi yang meninggal pada tanggal 28 september 1989, Ia merupakan salah satu aktor terbaik dari Teater Mandiri. Buyung Akhirul Akbar dalam naskah “Pidato” Karya Putu Fajar Arcana, seorang wartawan seni budaya harian Kompas dan Siti Mafruka dalam naskah “Rumah dan Tetesan” karya Riris K. Toha Sarumpaet, seorang guru besar tetap di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Ketiga reperoar akan ditampilkan sekaligus pada satu panggung oleh Lidhie Art Forum dan berlangsung satu hari  saja.

Dalam naskah Pidato karya Putu Fajar Arcana, Buyung Akhirul Akbar berperan sebagai sesosok pemuda yang telah dirasuki oleh roh seorang korban kekejaman masa pemberontakan PKI, yang mana ia tidak suka dengan hal yang berbau politik dimana ia menganggap bahwa orang-orang politik merupakan orang yang suka mencla-mencle. Seorang politikus yang dengan mudah mengumbar impian pada rakyat kecil yang mengatakan pada mereka bahwa mereka sanggup melepaskan penderitaan rakyat kecil yang selama ini dijerat hutang oleh para tuan tanah. Dengan tubuh yang diperankan oleh Buyung inilah ia mencoba berpidato dihadapan semua orang untuk menyampaikan semua hal yang menjadi keluhannya saat itu.

Sedangkan naskah Rumah dan Tetesan yang diperankan oleh Siti Mafruka, berbicara tentang seorang Ibu yang berperan dalam rumah tangga yang harus ia jalani sendiri tanpa seorang suami yang menemaninya dalam kehidupan. Ia harus berkorban untuk kedua anak yang dicampakkan dan dibiarkan oleh sang Ayah serta kehilangan kasih sayang. Dia tak sanggup memikirkan apa yang terjadi pada anak-anaknya hanya dengannya, Ia merasa, bagaimana impian mencapai tertinggi tidak sepenuhnya membuat dia lengkap. Siti Mafruka disini mencoba menggambarkan seorang Ibu yang bingung memahami posisi seorang Ibu dalam rumah tangga , tapi meski demikian akhirnya Ia menemukan bahwa ternyata bukan sebuah keluarga kokoh, Ia mendamba bahagia banyak orang, karena bahagia adalah kita semua, yang menerima dan yang menyerahkan, yang serumah dengan perbedaan.

Dalam naskah Boss karya Putu Wijaya yang diperankan oleh Mach. Novianto ini bercerita tentang kesenjangan antara Boss dan bawahannya di dalam suatu pekerjannya. Tersiksa dengan apa yang telah dilakukan oleh si Boss tersebut dan merasa cemburu dengan bawahannya. Hidup yang tidak tenang telah dialami terus setiap hari, kadang terasa jenuh dengan pekerjaannya, kadang merasa tidak nyaman dengan hidupnya yang telah dijalani. Kekhawatiran yang dialaminya seperti terjerat, terperosok ke dalam lubang pikirannya yang dalam dan jauh. Kesulitan yang terhindar oleh si bawahan ternyata sudah tak terbendung lagi bahwa ia harus tutup mulut tak peduli apa dan siapa yang ada dihadapannya.

Pentas monolog tiga naskah ini merupakan salah satu agenda pentas keliling 5 kota yang dipimpin oleh Adrian Dwi C sebagai pimpinan produksi. Kelima kota tersebut adalah Probolinggo, Nganjuk, Pasuruan, Ponorogo, dan Blitar. Agenda pementasan keliling ini merupakan agenda rutin dari sanggar Lidhie Art Forum (LAF) Mojokerto yang dipimpin oleh Bagus Mahayasa. Probolinggo adalah kota pertama yang akan dijadikan tempat pentas pertama mereka. Dengan menjalin kerja sama dengan pihak SMAN 4 Probolinggo, tiga naskah monolog ini akan dipentaskan di aula SMAN 4  Probolinggo yang beralamat di Jl. Slamet Riyadi Kanigaran Probolinggo pada hari Minggu tanggal 25 Januari 2008 pukul 19.00 WIB. Disamping agenda pentas keliling 5 kota ini, Lidhie Art Forum (LAF) Mojokerto memliki agenda rutin lainnya seperti workshop keaktoran, diklat teater pelajar, dialog budaya, dll.

Untuk lebih menjalin hubungan dengan pihak Lidhie Art Forum (LAF) Mojokerto dapat lewat contact person Lidhie Art Forum (LAF) Mojokerto : 0856 486 10191 (Buyung), 0852 308 88303 (Siti Mafruka), 0856 457 45176 (Adrian Dwi C) atau e-mail pada alamat : komunitas_laf_ mr@yahoo. co.id atau add as friend via alamat friendster : lidhieartforum@ gmail.com. (***)

Hardjono WS, Seniman Kreatif Itu Kini Tergolek Sakit

Posted by masjali On January - 3 - 2009 ADD COMMENTS

Hampir Seminggu di Rumah Sakit, Baru Ditangani Dokter Spesialis

Di sini tinggal orang-orang yang tak pernah tidur dan mengeluh

Karena putih matanya telah menjadi bianglala (Hardjono WS)

KHOIRUL INAYAH, Mojosari

—[ Kamis, 01 Januari 2009 ]

SEBAIT syair di atas nyaris tak terpisahkan dengan seniman yang tinggal di Desa Jatidukuh, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, Hardjono WS. Dan, ia benar-benar tidak mengeluh ketika kondisi tubuhnya drop pada Hari Natal lalu dan hingga kini tergolek lemas di RSUD Prof dr Soekandar Mojosari.

Saat koran ini bertandang ke RSUD bersama networker kebudayaan Abdul Malik kemarin siang, di ruangan tempatnya dirawat, hanya Marwiah Derang istrinya yang setia menunggu. Sesekali diusapnya rambut Hardjono yang sebagian besar telah memutih itu. ”Pa, ada tamu datang,” ujar Marwiah, ujarnya lembut sembari mengecup kening suaminya.

Dua mata yang semula terkatup itu berangsur membuka. Meskipun sudah mulai ada sedikit perubahan, namun tubuh Hardjono masih sangat lemah. Selang infus masih terhubung pada lengan kanannya. ”Apa kabar?” ujarnya dengan terbata ketika koran ini menyapa.

Bagi istrinya, ini sudah menjadi perkembangan yang berarti. Saat dibawa ke RSUD, 25 Desember lalu, tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan, matanya menatap kosong, dan tidak bisa berbicara. ”Biasanya setiap orang yang bertandang, Papa tidak mengenal sebelum saya kasih tahu. Tetapi, terhadap anda, papa langsung mengenalnya. Ini perkembangan yang bagus,” kata wanita asal Bugis tersebut.

Bagi Marwiah, tergoleknya Hardjono di RSUD ini membuyarkan rencana liburannya ke tanah asalnya Bugis yang sudah lama ia tinggalkan. Sebagai suami, Hardjono mengajak istrinya berlibur ke kampung halaman istrinya bersama Bintang anaknya. ”Papa bilang, Ma, nanti kalau novel saya dapat juara kita gunakan berlibur ke Bugis ya,” ujar Marwiah menirukan suaminya.

Namun, kondisi berkata lain. Tepat 25 Desember ia mendapati suaminya tergolek di depan televisi seusai bekerja di depan komputer. Sayangnya, pagi itu, ia belum juga sadar bahwa suaminya dalam kondisi pingsan. ”Pagi itu pukul 06.00 saya lihat papa tidur di depan TV, saya kira ya tidur biasa saja. Waktu saya bangunkan untuk sarapan pagi barulah saya sadar kondisi yang sebenarnya,’ ‘ kata Marwiah, yang segera membawa suaminya ke RSUD bersama Sukiyat.

Lalu, sakit apa Hardjono WS? Dikatakan istrinya, diduga Hardjono mengalami penyumbatan pada pembuluh darah otak kirinya. Ini yang menyebabkan syaraf motorik Hardjono tidak berfungsi. Sayangnya, diagnosa ini baru bisa ditegakkan kemarin lusa ketika spesialis syaraf datang dari Surabaya. ”Sebelumnya hampir seminggu ditangani dokter umum saja sehingga tidak diketahui penyebab pastinya,” ujar Mbak Wik, panggilan akrab Marwiah. Pihaknya juga sangat menyayangkan keterlambatan penanganan ini. ”Selama di sini, ya baru kemarin dikunjungi dokter spesialis syaraf,” katanya.

Sakit yang menimpa penulis naskah teater anak Layang-Layang ini cukup menyengat para seniman. Secara bergantian, seniman -tidak hanya dari Mojokerto–datang menjenguk. Belasan kawan-kawan dari komunitas seni menyempatkan diri berkunjung.

Antara lain, pengurus Dewan Kesenian Jawa Timur diwakili Syahlan Husein (sekretaris umum), Meimura (Bendahara), Koesen LD (Padepokan Bumi Pakarti Aji, Pacet), Cak Kadaruslan (Pusura Surabaya) dan istri, Sirikit Syah (Surabaya) dan suami, Harriyadie BS (Sidoarjo), perupa Mojokerto Alfie Fauzie, Nanang, Joni Ramlan, Hadi Sucipto, Samsul Hadi, Agus Widodo, Anik, Bung Gono, Irul, Affandi Abdul Hadi (Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto), Eko Edy Susanto (Ludruk Karya Budaya Mojokerto), Cak Supali, Heri Purwanto (caleg Partai Demokrasi Pembaruan Propinsi Jatim), Anang Timoer (Surabaya), M Arif (pekerja teater, Mojokerto), Ribut Sumiyono dan Nanang Moeni (pematung batu Trowulan), komunitas sastra pondok kopi Pacet Dadang Ari Murtono dan Samsul Arifin; sejumlah guru sebuah SMP di Gondang; Markus (pemijat, Mojokerto), Suliadi (penulis puisi, Mojokerto).

Meimura berharap agar Pemkab Mojokerto memperhatikan kondisi Hardjono WS. Sebab, sebagai putra daerah, Hardjono WS telah ikut serta mengharumkan nama daerah ini. Dia pernah mengharumkan nama Indonesia yang mendapatkan penghargaan dunia melalui Unesco bersama 14 pengarang Asia Pacifik mewakili penulis teater anak-anak. Ia satu-satunya pengarang dari Indonesia pada waktu itu. Dan sampai sekarang belum ada satu pun warga Mojokerto yang mendapatkan penghargaan yang sama.

Selain itu, tak terhitung lagi penghargaan baik tingkat regional maupun nasional yang didapatkan sosok yang lahir pada 11 maret 1945 ini. Antara lain, Lembaga Indonesia Amerika lewat Dewan Kesenian Jakarta berupa Award khusus teater, Juara I puisi Jatim versi Dewan Kesenian Surabaya, tiga naskah teater anak-anaknya jadi juara Jatim versi Dewan Kesenian Surabaya, tiga naskah teater anak anak juara nasional versi Dewan Kesenian Jakarta. Naskah televisi juara nasional versi TVRI Surabaya dan masih banyak lagi. (yr)

(Harian Jawa Pos)

Recent Comments

Jabat erat dari JiwaTeater.com. Situs ini dibangun sebagai media bersama teater Indonesia. Berniat untuk mengisi kekosongan media informasi pecinta teater. Untuk pengiriman materi berupa liputan pertunjukan, dokumentasi foto pertunjukan (baru maupun lama), esai seputar teater, tips atau panduan teknis, naskah drama dan lain-lain dapat dialamatkan ke salah satu dari alamat email berikut : masjali@yahoo.com, atau jogjateater@gmail.com, atau dewa01api@yahoo.com Pengelola Arahman Ali (Bandung) Ahmad Jalidu (Jogja)

Recent Comments

Hamlet Carnivora: Kekuasaan, Seks, Kekerasan

On Apr-10-2009
Reported by dewa01api

“Festival Topeng” Teater Lawas

On Jun-20-2010
Reported by dewa01api

TEATER UNTUK SEMUA DI BANTEN TV

On Jan-14-2009
Reported by masjali

WORKSHOP KEAKTORAN TEATER FATARIA STAIN PAMEKASAN

On Dec-10-2008
Reported by masjali